Redefinisi Fungsi Desa dalam Manga Naruto dan Bande Dessinée Astérix: Sebuah Kajian Komparasi Budaya Populer
Abstrak
AbstrakSecara alamiah, manusia membutuhkan sarana untuk mengisi waktu luangnyasetelah bekerja keras. Satu media yang murah, mudah dijangkau, dan digemari oleh semuakalangan di seluruh dunia adalah cerita bergambar atau komik yang merupakan bagiandari budaya populer. Pada umumnya, karya paraliteratur-visual ini memang bersifat fiktifdan hanya merupakan peniruan dari kenyataan yang digambarkan secara berlebihan(grotesque). Namun demikian, di dalam komik, sering ditemukan nilai-nilai kehidupanyang bersifat universal dan abadi sehingga dianggap layak sebagai bahan kajian budaya.Naruto, salah satu manga Jepang, dan Astérix, bande dessinée dari Prancis, akan ditelitisebagai representasi dunia Timur dan Barat. Latar sebagai unsur struktural dalam karyakaryafiksi ini ternyata juga menunjukkan kesamaan mendasar, yaitu keberadaan desasebagai tempat hidup para tokohnya. Dalam tulisan ini, akan dibahas pemaknaan lainterhadap lingkungan rural tersebut, yang memiliki andil dalam pembentukan karakterpara tokoh dari kedua komik. Metode kajian komparasi budaya akan digunakan denganpenerapan teori-teori yang relevan. Penelitian singkat ini bertujuan untuk melengkapistudi mengenai komik yang belum banyak dilakukan di Indonesia.Kata kunci: Desa, komik, Naruto, Astérix, Komparasi BudayaAbstractNaturally, humans need a way to fill their spare time after working hard. Acheap, accessible and popular medium by all circles around the world is a picture or comicstory, which is part of popular culture. McCloud (1993:7) defines comics as drawings andembossed symbols in a particular order, aimed at providing information or achievingaesthetic responses from the reader. In general, this visual-paraliterature work isindeed fictitious and merely an imitation of grotesque reality. However, in the comics, itis often found that values of life that are universal and eternal so comics are consideredappropriate as a material of cultural studies. Naruto, one of the Japanese manga, andAstérix, the bande dessinée of France, are examined as a representation of the East andWest. The background as a structural element in these works of fiction also shows the basicsimilarity of the existence of the village as the place of life of the characters. According toKartohadikoesoemo (1984:16), the village is a legal entity, in which a ruling society livesits own government. In this paper, other meanings of the rural environment, which hascontributed in the character formation of the characters from both comics are discussed.The method of cultural comparative is used with the application of relevant theories. Thisbrief study aims to complete the study of comics which is still very limited in Indonesia.Keywords: Village, Comic, Naruto, Astérix, Cultural ComparisonDiterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Pemberitahuan Hak Cipta
- Hak publikasi atas semua materi informasi yang tercantum dalam situs jurnal ini dipegang oleh dewan redaksi/editor dengan sepengetahuan penulis. Pengelola Jurnal akan menjunjung tinggi hak moral penulis.
- Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional. yang berarti bahwa hanya dengan izin penulis, informasi dan artikel Jurnal Metahumaniora dapat didistribusikan ke pihak lain dengan tanpa merubah bentuk aslinya untuk tujuan non-komersial.
- Setiap terbitan Jurnal Metahumaniora, baik cetak maupun elektronik, bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, penerbit atau pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pembaca atau pengakses.
Pernyataan Privasi
Semua informasi yang diberikan kepada Jurnal Metahumaniora akan digunakan sebatas kepentingan jurnal sebagaimana dicantumkan dalam laman Jurnal Metahumaniora dan tidak akan diberikan kepada pihak lain untuk kepentingan apapun.
Penulis dan editor akan saling menjaga privasi satu sama lain guna menghindari segala bentuk pelanggaran hak cipta, seperti duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarisme.
Naskah artikel ini adalah asli karya penulis yang belum pernah dipublikasikan di jurnal (media) manapun. Dalam naskah artikel penulis harus mengutip (sitasi) tulisan yang dimuat dalam jurnal Metahumaniora. Jika terdapat duplikasi penerbitan, naskah akan dicabut/dihapus oleh dewan redaksi










