Wacana Kolonial dalam Novel Max Havelaar: Sebuah Kajian Poskolonial
Abstrak
AbstrakHegemoni kolonialisme dalam budaya poskolonial merupakan alasan penelitian inikemudian mengkaji wacana kolonial dalam novel Max Havellar (MH) khususnya dampakditimbulkannya. Dampak dimaksud adalah posisi keberpihakan pemikiran tersirat darikarya tersebut. Hasil pembahasan menunjukkan, secara temporal maupun permanen MHmenyuarakan ketidakadilan dalam kondisi-kondisi kolonial menyangkut penindasan sangpenjajah terhadap terjajah. Hanya saja, upaya mengatasnamakan atau mewakili suarakaum terjajah terbukti mengimplikasikan ciri ideologis statis kerangka kolonialisme(orientalisme); yakni cara pandang Eropasentris, di mana “Barat” sebagai self adalah superior,dan “Timur” sebagai other adalah inferior. Dalam konteks poskolonialisme, MH dengan sifatkritisnya yang berupaya “menyuarakan” nasib pribumi terjajah, justru menampilkan stigmapenguatan kolonialitas itu sendiri secara hegemonik. Artinya, “menyuarakan” nasib pribumidimaknai sebagai keberpihankan kolonial yang kontradiktif, di mana stigma penguatankolonialitas justru lebih terasa, ujung-ujungnya melanggengkan hegemoni kolonial. Tidakmembela yang terjajah, tetapi memperhalus cara kerja mesin kolonial.AbstractThe hegemony of colonialism in the culture of postcolonial society is the reason this studythen examines the colonial discourse in the novel Max Havellar (MH) in particular the impactit brings. The impact in question is the implied position of thought in the work. The resultsof the discussion show that, temporarily or permanently, MH voiced injustice in the colonialconditions regarding the oppression of the colonist against the colonized. However, the effort toname or represent the voice of the colonized has proven to imply a static ideological characterin the framework of colonialism (orientalism); ie Eropacentric point of view, in which “West” asself is superior, and “East” as the other is the inferior. In the context of postcolonialism, MH withits critical nature that seeks to “voice” the fate of the colonized natives, actually presents thestigma of strengthening coloniality itself hegemonicly. That is, “voicing” the fate of the pribumiis interpreted as a contradictory colonial flare, where the stigma of strengthening colonialityis more pronounced, which ultimately perpetuates the hegemony of colonialism. No longerdefending the colonized, but refining the workings of the colonial machinery.Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Pemberitahuan Hak Cipta
- Hak publikasi atas semua materi informasi yang tercantum dalam situs jurnal ini dipegang oleh dewan redaksi/editor dengan sepengetahuan penulis. Pengelola Jurnal akan menjunjung tinggi hak moral penulis.
- Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional. yang berarti bahwa hanya dengan izin penulis, informasi dan artikel Jurnal Metahumaniora dapat didistribusikan ke pihak lain dengan tanpa merubah bentuk aslinya untuk tujuan non-komersial.
- Setiap terbitan Jurnal Metahumaniora, baik cetak maupun elektronik, bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, penerbit atau pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pembaca atau pengakses.
Pernyataan Privasi
Semua informasi yang diberikan kepada Jurnal Metahumaniora akan digunakan sebatas kepentingan jurnal sebagaimana dicantumkan dalam laman Jurnal Metahumaniora dan tidak akan diberikan kepada pihak lain untuk kepentingan apapun.
Penulis dan editor akan saling menjaga privasi satu sama lain guna menghindari segala bentuk pelanggaran hak cipta, seperti duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarisme.
Naskah artikel ini adalah asli karya penulis yang belum pernah dipublikasikan di jurnal (media) manapun. Dalam naskah artikel penulis harus mengutip (sitasi) tulisan yang dimuat dalam jurnal Metahumaniora. Jika terdapat duplikasi penerbitan, naskah akan dicabut/dihapus oleh dewan redaksi










