Nama Permainan Tradisional Sunda di Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung: Suatu Kajian Geolinguistik
Abstrak
AbstrakJudul makalah hasil penelitian ini adalah “Nama Permainan Tradisionaldi Kabupaten Bandung: Kajian Geolinguistik”. Metode yang digunakan dalampenelitian ini bersifat deskriptif dengan objek penelitian di sembilan titik pengamatandi Kabupaten Bandung. Adapun tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikannama permainan tradisional yang ada di Kab. Bandung. (2) Mendeskripsikanvariasi fonetis pada nama permainan tradisional Sunda. (3) Mendeskripsikan variasileksikal pada nama permainan tradisional Sunda. Hasil penelitian di sembilantitik pengamatan menunjukkan bahwa di Kabupaten Bandung ditemukan 26 jenispermainan tradisional yang populer dan di kenal di masyarakat, yaitu (1) Ucingsumput, (2) Boy-boyan, (3) Oray-orayan, (4) Sondah, (5) Kelereng, (6) Jajangkungan,(7) Loncat tinggi, (8) Congkak, (9) Kewuk, (10) Gagarudaan, (11) Ular tangga, (12)Dam-daman, (13) Gatrik, (14) Hompimpa, (15) Ngadu muncang, (16) Perepet jengkol,(17) Benteng, (18) Kobak, (19) Gasing, (20) Perepet jengkol, (21) Katapel, (22) Sorodotgaplok, (23) rorodaan, (24) kelom batok, (25) bedil jepret, dan (26) anjang-anjangan.Seluruh permainan tradisional tersebut berdasarkan kajian geolinguistik diketahuimemiliki variasi yang digolongkan ke dalam 10 variasi fonetis dan 13 variasi leksikalyang berbeda di beberapa titik pengamatan.Kata kunci: geolinguistik, nama permainan tradisional, Bandung, SundaAbstractThe title of this research paper is “The Name of Traditional Games in BandungRegency: Geolinguistic Studies”. The method used in this research is descriptive with theobject of research at nine points of observation in Bandung regency. The purpose of thisstudy are (1) Describe the name of traditional games in Kab. Bandung. (2) Describe phoneticvariations on the name of traditional Sundanese games. (3) Describe lexical variations on thename of traditional Sundanese games. The results of the research at nine points of observationindicate that in Bandung regency found 26 types of traditional games are popular and knownin the community, namely (1) Ucing Sumput, (2) Boy-boyan, (3) Oray-orayan, (4) Sondah,(7) Loncat Tinggi, (8) Congkak, (9) Kewuk, (10) Gagarudaan, (11) Snake ladder, (12) Damdaman,(13) Gatrik, ( 14) Hompimpa, (15) Ngadu muncang, (16) Perepet Jengkol, (17)Benteng, (18) Kobak, (19) Gasing, (20) Perepet Jengkol, (21) Katapel, (22) Sorodot gaplok,(23) rorodaan, (24) kelom batok, (25) bedil jepret, and (26) anjang-anjangan. All of thesetraditional games based on geolinguistic studies are known to have variations classified into10 phonetic variations and 13 different lexical variations at several points of observation.Keywords : Geolinguistic Studies, The Name of Traditional Games, Bandung, SundaDiterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Pemberitahuan Hak Cipta
- Hak publikasi atas semua materi informasi yang tercantum dalam situs jurnal ini dipegang oleh dewan redaksi/editor dengan sepengetahuan penulis. Pengelola Jurnal akan menjunjung tinggi hak moral penulis.
- Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional. yang berarti bahwa hanya dengan izin penulis, informasi dan artikel Jurnal Metahumaniora dapat didistribusikan ke pihak lain dengan tanpa merubah bentuk aslinya untuk tujuan non-komersial.
- Setiap terbitan Jurnal Metahumaniora, baik cetak maupun elektronik, bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, penerbit atau pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pembaca atau pengakses.
Pernyataan Privasi
Semua informasi yang diberikan kepada Jurnal Metahumaniora akan digunakan sebatas kepentingan jurnal sebagaimana dicantumkan dalam laman Jurnal Metahumaniora dan tidak akan diberikan kepada pihak lain untuk kepentingan apapun.
Penulis dan editor akan saling menjaga privasi satu sama lain guna menghindari segala bentuk pelanggaran hak cipta, seperti duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarisme.
Naskah artikel ini adalah asli karya penulis yang belum pernah dipublikasikan di jurnal (media) manapun. Dalam naskah artikel penulis harus mengutip (sitasi) tulisan yang dimuat dalam jurnal Metahumaniora. Jika terdapat duplikasi penerbitan, naskah akan dicabut/dihapus oleh dewan redaksi










