Heterotopic Tourism and Cultural Revivalism of Dusun Community in Bundu Tuhan, Sabah, Malaysia
Abstrak
AbstractThe paper discusses cultural movement of the Dusun community in Bundu Tuhan, Sabah, Malaysia and its connection to eco-tourism development in Kinabalu Park. The objective is to examine whether the involvement of the local people with the ecotourism through dominating the numbers of mountain guides and initiating the kakakapan id gayongaran (a traditional ceremony)are strategies to deal with the forces that culturally excludesthem from the ancestral land or merely spontaneously actions. Employing ethnographic studies through participant observation, it reveals that the Dusun people in Bundu Tuhan had successfully exercised the heteropic tourism through combining the involvement on mountain guiding and cultural events to obtain a bigger recognition toward the access Mount Kinabaluas their ancestral land. The outcomes are the two-day free access to the mountain every year and steady economic income earned through working at the Kinabalu Park.Keywords: dusun, heteropic, tourism, Kinabalu Park, ancestral landAbstrakPaper ini membahas gerakan cultural komunitas Dusun di Kampung Bundu Tuhan, Sabah, Malaysia dan kaitannya dengan eko-wisata di Taman Kinabalu. Tujuan riset ini adalah melihat apakah keterlibatan penduduk local dalam wisata alam melalui upaya mendominasi jumlah pemandu gunung dan menginisiasi ritual “kakakapan id gayongaran” merupakan strategi untuk bernegosiasi dengan kekuatan luar yang meminggirkan mereka secara budaya, atau sekedar tindakan yang bersifat spontan. Menggunakan metode etnografi melalui observasi lapangan, hasil studi menunjukkan bahwa orang Dusun di Bundu Tuhan berhasil menggunakan “heteropic tourism” dengan mengkombinasikan keterlibatan mereka dalam bisnis pemandu gunung dan menginisiasi event budaya untuk mendapatkan pengakuan atas akses yang lebih besar terhadap Gunung Kinabalu sebagai tanah adat mereka. Hasil yang diperoleh adalah akses selama 2 hari dalam satu tahun untuk melakukan ziarah gunung dan pada sisi lain tetap mendapatkan keuntungan ekonomi yang stabil dengan bekerja di Taman Kinabalu.Kata kunci: dusun, heteropic, wisata, Taman Kinabalu, tanah leluhurDiterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Pemberitahuan Hak Cipta
- Hak publikasi atas semua materi informasi yang tercantum dalam situs jurnal ini dipegang oleh dewan redaksi/editor dengan sepengetahuan penulis. Pengelola Jurnal akan menjunjung tinggi hak moral penulis.
- Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional. yang berarti bahwa hanya dengan izin penulis, informasi dan artikel Jurnal Metahumaniora dapat didistribusikan ke pihak lain dengan tanpa merubah bentuk aslinya untuk tujuan non-komersial.
- Setiap terbitan Jurnal Metahumaniora, baik cetak maupun elektronik, bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, penerbit atau pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pembaca atau pengakses.
Pernyataan Privasi
Semua informasi yang diberikan kepada Jurnal Metahumaniora akan digunakan sebatas kepentingan jurnal sebagaimana dicantumkan dalam laman Jurnal Metahumaniora dan tidak akan diberikan kepada pihak lain untuk kepentingan apapun.
Penulis dan editor akan saling menjaga privasi satu sama lain guna menghindari segala bentuk pelanggaran hak cipta, seperti duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarisme.
Naskah artikel ini adalah asli karya penulis yang belum pernah dipublikasikan di jurnal (media) manapun. Dalam naskah artikel penulis harus mengutip (sitasi) tulisan yang dimuat dalam jurnal Metahumaniora. Jika terdapat duplikasi penerbitan, naskah akan dicabut/dihapus oleh dewan redaksi










