Naon ataukah Naon ‘Apa’ Inovasi Internal dalam Bahasa Sunda
Kata Kunci:
geolinguistik, sebaran geografis, polimorfemis, inovasi internalAbstrak
Konsep ‘apa’ dalam bahasa Sunda diekspresikan dengan kata na?n. Secara geolinguistik kata na?n memiliki varian naön. Sebaran geografis kata na?n dan naön berbeda. Kata na?n tersebar luas di wilayah Priangan, sedangkan naön tersebar di daerah Banten dan Priangan Timur berbatasan dengan Jawa Tengah, juga di Brebes. Secara diakronis kata na?n berasal dari nahaon, sedangkan kata naön berasal dari nahaön, yang masingmsing kehilangan suku kata ha karena proses sinkop. Baik kata nahaon maupun nahaön memiliki bentuk dasar naha yang masing-masing ditambah suku kata on dan ön. Dalam bahasa Sunda bentuk ön secara morfemis berstatus sufiks. Dengan demikian, kemungkinan besar kata nahaön merupakan kata polimorfemis yang berasal dari naha + - ön. Dari analisis di atas, kemungkinan besar kata nahaon berasal dari nahaön. Sama halnya dengan kata na?n berasal dari naön. Dengan demikian, kata na?n dan naha?n masing-masing merupakan inovasi internal dari kata naön dan nahaön.Referensi
Ayatrohaedi. 2002. Pedoman Penelitian Dialektologi. Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas. Chambers, J.K. and Peter Trudgill.1980. Dialectology. Cambridge, New York, Melbourne: Cambridge University Press. Ciputat: Logos. Nothofer, Bernd. 1977a. “Dialektgeografische Untersuchung Des Sundanesichen und Des Entlang Der Sundanesichen Sprachgrenze Gesprochenen Javanischen und Jakarta-Malaiischen”. Erster Teil. Habilitationsschrift Vorgelegt Der Philosophisen Fakultät der Universität zu Köln. Nothofer, Bernd. 1977b. “Dialektatlas von West-Java und Den Westlichen Gebieten Zentral-Javas”. Zweiter Teil. Habilitationsschrift Vorgelegt Der Philosophisen Fakultät der Universität zu Köln. Noorduyn, J. dan A. Teeuw. 2009. Tiga Pesona Sunda Kuno. Jakarta: Pustaka Jaya. Sudaryanto. 1988. Metode Linguistik Bagian Kedua Metode dan Aneka Teknik Pengumpulan Data. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linbguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Wahya. 1995. “Bahasa Sunda di Kecamatan Kandanghaur dan Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu: Kajian Geografi Dialek. Tesis Magister. Bandung: Pascasarjana UNPAD. Wahya. 2000. “Fonem /h/ dalam Dialek-Dialek Bahasa Sunda”. Dalam Jurnal Sastra, Vol. 8. No. 5. Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Wahya. 2005. “Inovasi dan Difusi-Geografis Leksikal Bahasa Melayu dan Bahasa Sunda di Perbatasan Bogor-Bekasi: Kajian Geolinguistik”. Disertasi Doktor. Bandung: Pascasarjana UNPAD. Wahya. 2010. “Inovasi Bentuk dalam Variasi Geografis Bahasa Sunda: Kedinamisan dan Keharmonisan dalam Perubahan Bahasa Ibu”. Makalah Seminar Internasional Hari Bahasa Ibu pada tanggal 19—20 Februari 2010 di Bndung. Wahya. 2015. Bunga Rampai Penelitian Bahasa dalam Perspektif Geografis. Bandung: Semiotika. Wahya, dkk. 2016. “Pemetaan Bahasa Sunda Wewengkon di Wilayah Perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah”. Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi. Universitas Padjadjaran.
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Pemberitahuan Hak Cipta
- Hak publikasi atas semua materi informasi yang tercantum dalam situs jurnal ini dipegang oleh dewan redaksi/editor dengan sepengetahuan penulis. Pengelola Jurnal akan menjunjung tinggi hak moral penulis.
- Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional. yang berarti bahwa hanya dengan izin penulis, informasi dan artikel Jurnal Metahumaniora dapat didistribusikan ke pihak lain dengan tanpa merubah bentuk aslinya untuk tujuan non-komersial.
- Setiap terbitan Jurnal Metahumaniora, baik cetak maupun elektronik, bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, penerbit atau pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pembaca atau pengakses.
Pernyataan Privasi
Semua informasi yang diberikan kepada Jurnal Metahumaniora akan digunakan sebatas kepentingan jurnal sebagaimana dicantumkan dalam laman Jurnal Metahumaniora dan tidak akan diberikan kepada pihak lain untuk kepentingan apapun.
Penulis dan editor akan saling menjaga privasi satu sama lain guna menghindari segala bentuk pelanggaran hak cipta, seperti duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarisme.
Naskah artikel ini adalah asli karya penulis yang belum pernah dipublikasikan di jurnal (media) manapun. Dalam naskah artikel penulis harus mengutip (sitasi) tulisan yang dimuat dalam jurnal Metahumaniora. Jika terdapat duplikasi penerbitan, naskah akan dicabut/dihapus oleh dewan redaksi










