Naon ataukah Naon ‘Apa’ Inovasi Internal dalam Bahasa Sunda

https://doi.org/10.24198/metahumaniora.v7i1.23320

Penulis

Kata Kunci:

geolinguistik, sebaran geografis, polimorfemis, inovasi internal

Abstrak

Konsep ‘apa’ dalam bahasa Sunda diekspresikan dengan kata na?n. Secara geolinguistik kata na?n memiliki varian naön. Sebaran geografis kata na?n dan naön berbeda. Kata na?n  tersebar luas di wilayah Priangan, sedangkan naön  tersebar di daerah Banten dan Priangan Timur berbatasan dengan Jawa Tengah, juga di Brebes. Secara diakronis kata na?n berasal dari nahaon, sedangkan kata naön  berasal dari nahaön, yang masingmsing kehilangan suku kata ha  karena proses sinkop. Baik kata nahaon  maupun nahaön memiliki bentuk dasar naha  yang masing-masing ditambah suku kata on  dan ön. Dalam bahasa Sunda bentuk ön secara morfemis berstatus sufiks. Dengan demikian, kemungkinan besar kata nahaön merupakan kata polimorfemis yang berasal dari naha + - ön. Dari analisis di atas, kemungkinan besar kata nahaon  berasal dari nahaön. Sama halnya dengan kata na?n  berasal dari naön. Dengan demikian, kata na?n dan naha?n masing-masing merupakan inovasi internal dari kata naön dan nahaön. 

Referensi

Ayatrohaedi. 2002. Pedoman Penelitian Dialektologi. Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas. Chambers, J.K. and Peter Trudgill.1980. Dialectology. Cambridge, New York, Melbourne: Cambridge University Press. Ciputat: Logos. Nothofer, Bernd. 1977a. “Dialektgeografische Untersuchung Des Sundanesichen und Des Entlang Der Sundanesichen Sprachgrenze Gesprochenen Javanischen und Jakarta-Malaiischen”. Erster Teil. Habilitationsschrift Vorgelegt Der Philosophisen Fakultät der Universität zu Köln. Nothofer, Bernd. 1977b. “Dialektatlas von West-Java und Den Westlichen Gebieten Zentral-Javas”. Zweiter Teil. Habilitationsschrift Vorgelegt Der Philosophisen Fakultät der Universität zu Köln. Noorduyn, J. dan A. Teeuw. 2009. Tiga Pesona Sunda Kuno. Jakarta: Pustaka Jaya. Sudaryanto. 1988. Metode Linguistik Bagian Kedua Metode dan Aneka Teknik Pengumpulan Data. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linbguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Wahya. 1995. “Bahasa Sunda di Kecamatan Kandanghaur dan Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu: Kajian Geografi Dialek. Tesis Magister. Bandung: Pascasarjana UNPAD. Wahya. 2000. “Fonem /h/ dalam Dialek-Dialek Bahasa Sunda”. Dalam Jurnal Sastra, Vol. 8. No. 5. Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Wahya. 2005. “Inovasi dan Difusi-Geografis Leksikal Bahasa Melayu dan Bahasa Sunda di Perbatasan Bogor-Bekasi: Kajian Geolinguistik”. Disertasi Doktor. Bandung: Pascasarjana UNPAD. Wahya. 2010. “Inovasi Bentuk dalam Variasi Geografis Bahasa Sunda: Kedinamisan dan Keharmonisan dalam Perubahan Bahasa Ibu”. Makalah Seminar Internasional Hari Bahasa Ibu pada tanggal 19—20 Februari 2010 di Bndung. Wahya. 2015. Bunga Rampai Penelitian Bahasa dalam Perspektif Geografis. Bandung: Semiotika. Wahya, dkk. 2016. “Pemetaan Bahasa Sunda Wewengkon di Wilayah Perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah”. Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi. Universitas Padjadjaran.

Diterbitkan

2017-04-29

Cara Mengutip

Wahya, W. (2017). Naon ataukah Naon ‘Apa’ Inovasi Internal dalam Bahasa Sunda. Metahumaniora, 7(1), 13–19. https://doi.org/10.24198/metahumaniora.v7i1.23320