FILM INDUCED TOURISM DAN DESTINASI WISATA DI INDONESIA
Kata Kunci:
film, pariwisata, Bali, Yogyakarta, BelitungAbstrak
Sektor pariwisata merupakan salah satu sumber penting bagi devisa negara. Hal tersebut menyebabkan negara-negara di dunia berlomba-lomba untuk mempromosikan pariwisatanya karena ketatnya persaingan pariwisata dalam dunia internasional. Berbagai cara dilakukan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke negaranya masing-masing. Salah satu cara yang dilakukan adalah melalui film yang dipandang cukup efektif dalam mempromosikan daerah-daerah tujuan wisatanya. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, beberapa negara dengan jumlah wistawan yang besar mengakui bahwa salah satu faktor pendorong wisatawan untuk berwisata ke negaranya adalah melalui film. Film dipandang sebagai media yang lebih efektif daripada menggunakan cara-cara tradisional seperti brosur dan iklan-iklan khusus lainnya, karena film dapat menjangkau jutaan orang, bertahan lama, dan memengaruhi orang-orang tanpa menyadari bahwa hal tersebut merupakan suatu promosi.Penelitian ini bertujuan untuk melihat perkembangan film sebagai promosi pariwisata, dampak film terhadap peningkatan kunjungan wisatawan, terutama dampak mengenai film dan promosi pariwisata di Indonesia.Sumber yang digunakan dalam penelitian adalah tulisan tulisan ilmiah dalam bentuk artikel maupun proseding seminar dan film-film yang terkait erat dengan pokok kajian penelitian. Penelitian ini memperlihatkan bahwa adanya dampak film terhadap beberapa destinasi wisata di Indonesia.Yogyakarta, Belitung dan Bali adalah destinasi wisata yang diinduksi oleh film.Referensi
Beeton, Sue. 2001. Smiling FOR The Camera: The Influence Of Film Audiences On A Budget Tourism Destination. Tourism, Culture & Communication, Vol. 3 pp. 15–25.
Beeton, Sue. 2006. Understanding Film-Induced Tourism. Tourism Analysis, Vol 11. Pp 181-188.
Bell, Claudia. 2019. The New Age Tourism Brand-Wagon in Ubud, Bali: Eat Pay Love! South Asian Research Journal of Arts, Language and Literature. Volume 1, Issue 2. Nov-Dec 2019.
Bharti, Parvi. 2015. Films and Destination Promotion: An Exploratory Study. Inter-national Journal of Travel and Tourism Volume 8, Issue 1 & 2. Page 50-61.
Busby, Graham dan Julia Klug. 2001. Movie-Induced Tourism: The Challenge of Measurement and Others Issues. Jounal of Vacation Marketing. Volume 7 Number 4.
Cohen, Matthew Isaac. 2010. Performing Otherness: Java and Bali on International Stages, 1905-1952. New York: Palgrave MacMillan.
Geerken, Horst H. 2011. A Magic Gecko. Jakarta: Kompas Gramedia.
Gjorgievski, Mijalce dan Sinolicka Trpkova. 2012. Movie Induced Tourism: A New Tourism Phenomenon. UTSM Journal of Economics. Vol 3 No 1. Page 97 -104.
Hidayah, Satrio Rustam dan Hafid Setiadi. 2018. The Impact of The Film Ada Apa Dengan Cinta 2 on Culinary Tourism in The Province of Yogyakarta. Advances in Social Science, Education and Humanities Research, volume 365. pp 140-147.
Imanjaya, Ekky dan Indra Kusumawardhana. 2016. Pariwisata Film Gaya Indonesia: Kasus Laskar Pelangi dan Eat Pray Love. Jurnal Studi Komunikasi. Vol. 3 No. 2, Juli - Desember 2016.
Juškelyte?, Donata. 2016. Film Induced Tourism: Destination Image Formation And Development. Regional Formation and Development Studies, No. 2 (19). pp 54-67
Karpovich, Angelina I. 2010. Theoretical Approaches to Film- Motivated Tourism. Tourism and Hospitality Planning & Development, 7:1, pp 7-20.
Kim, S., & O’Connor, N. 2011. A cross-cultural study of screen-tourists’ pro les. Worldwide Hospitality and Tourism Themes, 3(2), 141–158.
Kristiyono, Jokhanan. 2017. Film Sebagai Medium Komunikasi Pariwisata. Tourism, Hospitali-ty and Culinary Journal. Vol 2. No 1. Hal 43 -51.
Lim, Eng Beng. 2014. Brown Boys and Rice Queens: Spellbinding Peformance in The Asias. New York and London. New York University Press.
Lim, Jaehae-Hwang, et.al. 2015. Humanistic Understanding of Kimchi and Kimjang Culture. Gwangju City Korea: World Institute of Kimci.
Ma’Arif, Achmad Safeii., M. Iqbal Sultan dan Tuti Bahfiarti. 2017. Strategi Promosi Film Ada Apa Dengan Cinta 2 Melalui Media Online. Jurnal Komunikasi KAREBA. Vol.6 No.1 Januari – Juni 2017.
Macionis, Niki (2004) Understanding the Film-Induced Tourist. In Frost, Warwick, Croy, Glen and Beeton, Sue (editors). Inter-national Tourism and Media Conference Proceedings. 24th-26th November 2004. Melbourne: Tourism Research Unit, Monash University. 86- 97.
O’ Connor, Noëlle. 2011. A Conceptual Examination of The Film Induced Tourism Phenomenon In Ireland. European Journal of Tourism, Hospitality and Recreation. Vol. 2, Issue 3, pp. 105-125.
O’Connor, Noelle. Sheila Flanagan, dan David Gilbert. 2008. The Integration of Film-induced Tourism and Destination Branding in Yorkshire, UK. International Journal of Tourism Research. No 10, 423–437.
O’Connor, Noelle. et al. 2010. The use of film in re-imaging a tourism destination: a case study of Yorkshire, UK. Journal of Vacation Marketing
(1) 61–74.
Ogle, Alfred dan Lana Lee Tsz Ying. 2015. Korean TV Soap Operas: An Assessment of the Academia-National Tourism Organisation (NTO) Professional Communication in the Korea Tourism Organization (KTO) 2013 Integrated Marketing Communication Strategy. Tourism Development Journal, Vol. 13, No. 1.
Olsberg, SPI. 2007. Stately Attraction: How Film and Television Programmes Promote Tourism in the UK. Final Report to UK Film Council, Scottish Screen, EM Media, East Midlands Tourism, Screen East, South West Screen, Film London and Visit London.
Pane, Armijn. 1953. Produksi Film Tjerita di Indonesia: Perkembangannya sebagai alat masjarakat. Tjetakan Chusus madjalah “Indonesia” No 1-2.
Pratt, S. (2015). The Borat effect: film-induced tourism gone wrong. Tourism Economics, 21(5). PP 977-993.
Riley, Roger W dan Carlton S Van Doren. Movies as Tourism Promotion: ‘pull faktor in a ‘push’ location. Tourist Management, September 1992. 267- 274
Saltik, I. A., Y. Cosar Yessim dan M. Kozak. (2011). Film-induced tourism: Benefits and challenges for destination marketing. European Journal of Tourism Research 4(1), pp. 44-54
Senokosova, Anastasia. 2018. e cinematographic works of an artist Walter Spies about Balinese culture: ethnographic spectacles in the social-cultural context of 1930-s. International Conference on Social Science, Humanities & Education. 21-23 December 2018 in Berlin Germany.
Strinati, Dominic. 2007. Pupular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Yogyakarta: Bentang.
Tuclea, Claudia-Elena and Puiu Nistoreanu. 2011. How film and television programs can promote tourism and increase the competitiveness of tourist destinations. Cactus Tourism Journal Vol. 2, Issue 2/2011, Pages 25-30.
Vagionis, Nikolaos dan Maria Loumioti. 2011. Movies as Tool of Modern Tourist Mar-keting. Torismos. An International Multi-disciplinary. Journal of Tourism. Vol 6 Number 2. Page 353-362.
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Pemberitahuan Hak Cipta
- Hak publikasi atas semua materi informasi yang tercantum dalam situs jurnal ini dipegang oleh dewan redaksi/editor dengan sepengetahuan penulis. Pengelola Jurnal akan menjunjung tinggi hak moral penulis.
- Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional. yang berarti bahwa hanya dengan izin penulis, informasi dan artikel Jurnal Metahumaniora dapat didistribusikan ke pihak lain dengan tanpa merubah bentuk aslinya untuk tujuan non-komersial.
- Setiap terbitan Jurnal Metahumaniora, baik cetak maupun elektronik, bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, penerbit atau pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pembaca atau pengakses.
Pernyataan Privasi
Semua informasi yang diberikan kepada Jurnal Metahumaniora akan digunakan sebatas kepentingan jurnal sebagaimana dicantumkan dalam laman Jurnal Metahumaniora dan tidak akan diberikan kepada pihak lain untuk kepentingan apapun.
Penulis dan editor akan saling menjaga privasi satu sama lain guna menghindari segala bentuk pelanggaran hak cipta, seperti duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarisme.
Naskah artikel ini adalah asli karya penulis yang belum pernah dipublikasikan di jurnal (media) manapun. Dalam naskah artikel penulis harus mengutip (sitasi) tulisan yang dimuat dalam jurnal Metahumaniora. Jika terdapat duplikasi penerbitan, naskah akan dicabut/dihapus oleh dewan redaksi










