THE NON-COOPERATIVE JOURNALISTS’ STRUGGLE AGAINST SELF-CENSORSHIP DURING THE NEW ORDER INDONESIA (1967-1998)
Kata Kunci:
Indonesian Journalists, Censorship, Soeharto RegimeAbstrak
In the Soeharto era, the Indonesian journalists were divided into two categories: the cooperative and the non-cooperative ones. Different from the former that obeyed to the government to do self-censorship, the latter category challenged against the government by publishing not only good news, but also any sensitive news about the national problems. In this research, I will analyze the struggle of the non-cooperative journalists, later called the independent journalists, against the regulation of censorship. How they responded to the censorship, and what ways they used to resist the regulation will be the main focuses of the study. In conducting this research, I use history method including heuristic, criticism, interpretation, and historiography. The result of the study shows that the independent journalists took actions by founding an organization called the AJI (the Alliance of Independent Journalists) to organize the journalists with the same goal: ceasing freedom of expression. They also had several alternative media to disseminate the information to avoid the government surveillance, like publishing books, using the internet, conducting seminars, and founding discussion forums with Indonesian students. Their efforts, triggered by the economic collapse factor, succeeded to end the authoritarianism regime.Referensi
Ahmad Taufik, at.al. 2010. Semangat Sirnagalih. Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen.
Abd. Rohim Ghazali (Ed.). 1998. Suara-suara Perih Masyarakat Indonesia. Bandung: Penerbit Mizan.
A. Hamzah, et.al. 1987. Delik-Delik Pers di Indonesia. Jakarta: Media Sarana Press.
Ariel Heryanto and Stanley Yoseph Adi. 2001. “The Industrialisation of Media in Democratising Indonesia,” pp. 327-355.
Arifin, Anwar. 1992. Komunikasi Politik dan Pers Pancasila. Jakarta: Media Sejahtera.
Atmakusumah and Sri Rumiati Atmakusumah (Ed.). 2008. Tajuk-tajuk Mochtar Lubis di Harian Indonesia Raya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Ayu Utami, at. al. 1994. Bredel 1994: Kumpulan Tulisan Tentang Pembredelan TEMPO, DETIK, EDITOR. Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen.
Bambang Bujono and Imran Hasibuan (Ed.). 1995. Wartawan Independen: Sebuah Pertanggungjawaban AJI. Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen.
Bambang Bujono, et. al. (Ed.). 1995. “Mengapa Kami Menggugat”. Jakarta: Yayasan Alumni Tempo.
Collins, Elizabeth Fuller. 2007. Indonesia Betrayed: How Development Fails. Honolulu: University of Hawai’i Press.
Committee to Protect Journalist. 1991. In the Censors’ Shadow: Journalism in Soeharto’s Indonesia. New York: Nov 1991.
Dadang RHs and Roy Pakpahan (Ed.). 1996. Jurnalis Independen Diadili: Pledoi Tiga Terpidana. Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen.
Freedman, Amy L. 2006. Political Change and Consolidation: Democracy’s Rocky Road in Thailand, Indonesia, Malaysia, and South Korea. New York: Palgrave McMillan.
Geoff Forrester and R.J. May (Ed.). 1998. The Fall of Soeharto. Bathurst: Crawford House Publishing.
Hill, David T. 1994. The Press in New Order Indonesia. Nedlands: University of Western Press.
Kakialiatu, Toeti. 2007. ‘Media in Indonesia: Forum for Political Change and Critical Assessment,’ Asia Pacific Viewpoint, Vol. 48, No. 1, April 2007, pp. 62-5.
Krishna Sen and David T. Hill. 2000. Media, Culture, and Politics in Indonesia. Victoria: Oxford University Press.
Lane, Max. 2008. Unfinished Nation: Indonesia before and after Soeharto. London and New York: Verso.
Lars Willnat and Annette Aw (Eds.). 2009. Political Communication in Asia. New York: Routledge.
Lubis, Mochtar. 2008. Nirbaya: Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Lubis, Mochtar. 1992. Budaya, Masyarakat, dan Manusia Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Saunders, Joseph. 1998. Academic Freedom in Indonesia: Dismantling Soeharto Era Barriers. New York: Human Right Watch.
Ramadhan K. H. (Ed.). 1995. Mochtar Lubis: Bicara Lurus Menjawab Pertanyaan Wartawan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Romano, Angela. 2003. Politics and the Press in Indonesia. London and New York: Routledge Curzon.
Seth, S.P. 1994. ‘Clamp Down on Press in Indonesia.’ Economic and Political Weekly, vol. 29, no. 37 (Sep. 10, 1994), p. 2407.
Steele, Janet. 2005. Wars Within. Jakarta: Equinox Publishing Indonesia.
Surjomihardjo, Abdurrachman. 1980. Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia. Jakarta: Departemen Penerangan and LIPI.
Sheng, Andrew. 2009. From Asian to Global Financial Crisis. New York: Cambridge University Press.
Sutrisno, Eri (Ed.). 1998. Reformasi Media Massa. Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen. Indonesian constitution, “Principles for Press,” no. 11 1966, articles 2, 4, 5.
Newspaper
“Indonesia: the 1974 Riots,” Tharunka (Kensington, NSW, 1953-2010), Wednesday, 27 March 1974, p. 4.
“Large Protests Expected,” the Canberra Times (ACT: 1926-1995), Monday, 7 January 1974, p. 4.
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Pemberitahuan Hak Cipta
- Hak publikasi atas semua materi informasi yang tercantum dalam situs jurnal ini dipegang oleh dewan redaksi/editor dengan sepengetahuan penulis. Pengelola Jurnal akan menjunjung tinggi hak moral penulis.
- Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional. yang berarti bahwa hanya dengan izin penulis, informasi dan artikel Jurnal Metahumaniora dapat didistribusikan ke pihak lain dengan tanpa merubah bentuk aslinya untuk tujuan non-komersial.
- Setiap terbitan Jurnal Metahumaniora, baik cetak maupun elektronik, bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, penerbit atau pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pembaca atau pengakses.
Pernyataan Privasi
Semua informasi yang diberikan kepada Jurnal Metahumaniora akan digunakan sebatas kepentingan jurnal sebagaimana dicantumkan dalam laman Jurnal Metahumaniora dan tidak akan diberikan kepada pihak lain untuk kepentingan apapun.
Penulis dan editor akan saling menjaga privasi satu sama lain guna menghindari segala bentuk pelanggaran hak cipta, seperti duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarisme.
Naskah artikel ini adalah asli karya penulis yang belum pernah dipublikasikan di jurnal (media) manapun. Dalam naskah artikel penulis harus mengutip (sitasi) tulisan yang dimuat dalam jurnal Metahumaniora. Jika terdapat duplikasi penerbitan, naskah akan dicabut/dihapus oleh dewan redaksi










