KORESPONDENSI FONEMIS ENAM KATA KERABAT BAHASA INDONESIA, BAHASA MELAYU KELANTAN, BAHASA MELAYU PATANI, DAN BAHASA SUNDA
Kata Kunci:
rumpun bahasa, kata kerabat, korespondensi fonemis, pewarisan.Abstrak
AbstrakBahasa Indonesia, bahasa Melayu Kelantan, bahasa Melayu Patani, dan bahasa Sunda merupakan bahasa kerabat. Keempat bahasa tersebut termasuk rumpun bahasa Austronesia. Ketiga bahasa pertama, yaitu bahasa Indonesia, Melayu Kelantan, dan Melayu Patani termasuk kelompok bahasa Melayu, sedangkan bahasa Sunda tidak termasuk bahasa Melayu. Bahasa Indonesia dan Sunda terdapat di Indonesia. Bahasa Melayu Kelantan terdapat di Malaysia. Bahasa Melayu Patani terdapat di Thailand. Sebagai bahasa kerabat rumpun Austronesia, keempat bahasa memiliki kosakata yang diwariskan dari bahasa yang lebih tua. Ciri-ciri adanya pewarisan tersebut dapat diamati pada kosakata yang memiliki persamaan atau kemiripan bentuk dan makna. Masalah yang dibahas adalah korespondensi fonemis apa yang menunjukkan perbedaan kata kerabat yang diperoleh dari hasil membandingkan kata kerabat pada enam glos dari empat bahasa sampel yang diteliti. Dalam tulisan ini diambil enam kata sampel bahasa Indonesia sebagai glos dari 200 glos kosakata dasar Swadesh, yaitu hapus, hati, hidup, hijau, hitam, dan hujan. Data bersumber dari kamus dan informan. Dari hasil penelitian terhadap kata kerabat untuk enam glos tersebut diperoleh sembilan perangkat korespondensi fonemis, yaitu (a) /h ~ ø/ , (b) /s ~ h/, (c) /i ~ ?/, (d) /d ~ r/, (e) /p ~ k/, (f) /aw ~ a ~ ?/ , (g) /am ~ ?? ~ ?/, dan (h) /-an ~ --?/. Selanjutnya, setiap korespondensi fonemis tersebut menghasilkan pengelompokan bahasa yang memperlihatkan pemilik unsur bahasa yang terdapat pada korespondensi fonemis tersebut dan jika dilakukan rekonstruksi, pengelompokan bahasa tersebutmenunjukkan pencabangan dari bahasa yang lebih tua yang telah menurunkannya.Kata kunci: rumpun bahasa, kata kerabat, korespondensi fonemis, pewarisan. AbstractIndonesian, Kelantan Malay, Patani Malay, and Sundanese are kin languages. The four languages include the Austronesian language family. The first three languages, namely Indonesian, Kelantan Malay, and Patani Malay belong to the Malay language group, while Sundanese does not include Malay. Indonesian and Sundanese are found in Indonesia. Kelantan Malay is found in Malaysia. Patani Malay is found in Thailand. As the languages of relatives of Austronesian families, all four languages have vocabulary inherited from older languages. The characteristics of inheritance can be observed in vocabulary that has similarities or similarities in form and meaning. The problem discussed is the phonemic correspondence of what shows the difference in relative words obtained from the results of comparing relative words in the six glossos of the four sample languages studied. In this paper six Indonesian sample words are taken as glossos from 200 basic Swadesh vocabulary words, namely erase, heart, life, green, black, and rain. Data sourced from dictionaries and informants. From the results of research on the word relatives for the six glossos obtained nine phonemic correspondence sets, namely (a) / h ~ ø /, (b) / s ~ h /, (c) / i ~ ? /, (d) / d ~ r /, (e) / p ~ k /, (f) / aw ~ a ~ ? /, (g) / am ~ ?? ~ ? /, and (h) / -an ~ --? /. Furthermore, each phonemic correspondence results in a grouping of languages that shows the owner of the language elements contained in the phonemic correspondence and if a reconstruction is made, the grouping of languages shows the branching of older languages which has derived it.Keywords: language family, word relatives, phonemic correspondence, inheritanceReferensi
Arlotto, Anthony (1981). Introduction to Historical Linguistics. New York: Houghton
Mifflin.
Chambers, J.K and Peter Trudgill. (1994). Dialectology. New York: Cambridge
University Press.
Cillins, James T. (1989). Antologi Kajian Dialek Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa
dan Pustaka.
Crowley, Terry (1987). An Introduction to Historical Linguistics. Papua New Guinea:
University of Papua New Press.
Hasan, Salbia. (2015).”Sistem Vokal Dialek MelayuKabong, Sarawak” dalam Jurnal
Bahasa Jilid 5. Hlm. 79—80.
Keraf, Gorys (1984). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: Gramedia.
Saryono, Djoko. (2011). Hakikat Linguistik Bandingan. Malang: Aditya Media Publishing.
Wahya. (2015). Bunga Rampai Penelitian Bahasa dalam Perspektif Geografis. Bandung:
Semiotika.
DAFTAR KAMUS
Dewan Bahasa dan Pustaka. (2016). Glosari Dialek Kelantan. Kuala Lumpur: Dewan
Bahasa dan Pustaka.
Kridalaksna, Harimurti. (2008). Kamus Linguistik. Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Pemberitahuan Hak Cipta
- Hak publikasi atas semua materi informasi yang tercantum dalam situs jurnal ini dipegang oleh dewan redaksi/editor dengan sepengetahuan penulis. Pengelola Jurnal akan menjunjung tinggi hak moral penulis.
- Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional. yang berarti bahwa hanya dengan izin penulis, informasi dan artikel Jurnal Metahumaniora dapat didistribusikan ke pihak lain dengan tanpa merubah bentuk aslinya untuk tujuan non-komersial.
- Setiap terbitan Jurnal Metahumaniora, baik cetak maupun elektronik, bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, penerbit atau pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pembaca atau pengakses.
Pernyataan Privasi
Semua informasi yang diberikan kepada Jurnal Metahumaniora akan digunakan sebatas kepentingan jurnal sebagaimana dicantumkan dalam laman Jurnal Metahumaniora dan tidak akan diberikan kepada pihak lain untuk kepentingan apapun.
Penulis dan editor akan saling menjaga privasi satu sama lain guna menghindari segala bentuk pelanggaran hak cipta, seperti duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarisme.
Naskah artikel ini adalah asli karya penulis yang belum pernah dipublikasikan di jurnal (media) manapun. Dalam naskah artikel penulis harus mengutip (sitasi) tulisan yang dimuat dalam jurnal Metahumaniora. Jika terdapat duplikasi penerbitan, naskah akan dicabut/dihapus oleh dewan redaksi










