IDENTITAS BUDAYA DAN SEJARAH SUKU BAJO DI BAJO PULAU PASCANOMADEN

https://doi.org/10.24198/metahumaniora.v11i1.32115

Penulis

Kata Kunci:

Suku Bajo, Bajo Pulau, Permasalahan sosial, Sejarah, Identitas budaya, Nomaden

Abstrak

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui identitas budaya dan sejarah suku Bajo yang menetap di Bajo Pulau. Keunikan Bajo Pulau sebagai daerah yang merepresentasikan budaya bahari dan sejarah suku Bajo yang dikenal sebagai suku nomaden laut yang sudah mulai hidup beberapa dekade yang lalu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah yang memiliki empat tahapan kerja yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan kesejarahan. Artikel ini menyimpulkan bahwa identitas budaya suku Bajo telah mengalami pergeseran akibat kontak langsung dengan budaya daratan yang mempengaruhi suku Bajo untuk mulai hidup menetap di sebuah pulau setelah Kesultanan Bima bergabung dengan Republik Indonesia. Bergesernya pola kehidupan masyarakat dari budaya bahari ke semi daratan ditandai dengan menurunnya tingkat kesadaran generasi muda seperti tidak terlalu banyak yang tertarik untuk mengambil untung dengan budaya bahari disertai dengan pudarnya kearifan lokal untuk melestarikan daya dukung daya dukungnya. lingkungan karena budaya penangkapan ikan bersifat merusak dan tidak lestari.

Referensi

Ardiansyah. 2019. Tembe Nggoli dalam Pakaian Adat Masyarakat Mbojo Bima (Studi Unsur-unsur Kebudayaan Islam). Skripsi. Makassar: UIN Alauddin.

Baskara, Benny. 2011. “Manifestasi Identitas Islam Suku Bajo Dalam Naskah Lontarak Assalenna Bajo” dalam Jurnal Kawistara Vol. 1 Nomor 1. hlm. 15-27.

Ekspedisi Nusantara Jaya Unpad. 2018. Laporan Hasil Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik: Desa Bajo Pulau. Sumedang: Universitas Padjadjaran.

Gobang, A. A. dkk. 2017. “Perkembangan Spasial Hunian Suku Bajo di Kampung Wuring Kota Maumere” dalam Jurnal Teknik Arsitektur ARTEKS Vol. 2 Nomor 1. hlm. 1-14.

Haris, Tawalinuddin. 2006. “Kesultanan Bima di Pulau Sumbawa” dalam Jurnal WACANA Vol. 8 Nomor 1. hlm. 17-31.

Kurais. 2016. Islamisasi Suku Bajo di Bima (Suatu Tinjauan Historis). Skripsi. Makassar: UIN Alauddin.

Muhammad, Syukur. 2007. “Sistem Sosial dan Kepercayaan Suku Bajo” dalam Jurnal ATTORIGOLONG Vol. 4 Nomor 1. hlm. 87-96.

Nufus, Hayatun. 2015. “Duo Bajo di Desa Bajo Pulau Pulau Kabupaten Bima (1968-2011)” dalam Jurnal Pattingalloang Vol. 1 Nomor 1. hlm. 175-186.

Uniawati. 2010. “Makna Mantra Melaut Suku Bajo”. dalam Jurnal ATAVISME Vol. 1 Nomor 13. hlm. 175-186.

Achmad, Sri. Wintala. 2016. Sejarah Kerajaan-kerajaan Besar di Nusantara. Yogyakarta : Araska Publisher.

Badan Pusat Statistik. (2019). Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia. Jakarta : Badan Pusat Statistik.

Daeng, H. J. 1985. Pesta Persaingan dan Konsep Harga Diri di Flores. Dalam Michael R. Dove (Ed), Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia dalam Modernisasi (hlm 287-311). Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Handoyo, Eko. dkk. 2015. Studi Masyarakat Indonesia. Yogyakarta: Ombak.

Lapian, Adrian. Bernard. 2017. Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad Ke-16 dan 17. Depok : Komunitas Bambu.

Magdoff, Fred. & Foster, John. Bellamy. 2018. Lingkungan Hidup dan Kapitalisme. Tangerang Selatan : Marjin Kiri.

Suseno, Franz. Magnis. 2016. Etika Politik. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Taufiqurrahman. 2012. Sejarah Pelabuhan Bima. Yogyakarta : Ombak.

Wangke, Humphrey. 2019. Prolog. dalam Humphrey Wangke (Ed), Diplomasi Indonesia dan Pembangunan Konektivitas Maritim (1-7). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor.

Warsito, Ronggo. 2017. Antropologi Budaya. Yogyakarta : Ombak.

Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat, 2015, “Jumlah Individu dengan Kondisi Kesejahteraan sampai dengan 10 Terendah Menurut Desa di Provinsi Nusa Tenggara Barat”. Diakses dari https://ntb.bps.go.id/statictable/2016/12/15/164/jumlah-individu-dengan-kondisi-kesejahteraan-sampai-dengan-10-terendah-menurut-desa-di-provinsi-nusa-tenggara-barat-2015.html tanggal 16 Juli 2020.

Bimakini, 2017, “Hari Jadi Bima Wahana Refleksi Perjuangan”. Diakses dari https://www.bimakini.com/2017/07/hari-jadi-bima-wahana-refleksi-perjuangan/ tanggal 17 Juli 2020.

KBBI daring, 2021, “Sinkretis”. Diakses dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/sinkretis tanggal 9 April 2021.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, 2018, “Hotspot Sampah Laut Indonesia”. Diakses dari https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://documents.worldbank.org/curated/en/642751527664372193/pdf/126686-INDONESIA-29-5-2018-14-34-5-SynthesisFullReportAPRILIND.pdf&ved=2ahUKEwiy46XK3o7uAhXBeisKHZsoCFkQFjAAegQIARAB&usg=AOvVaw18g8hY9-F2nlQ6Rofiv6Ri tanggal 18 Juli 2020.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Indonesia, 2021, “Kekuatan Budaya Lamaholot dalam Pembentukan Karakter dan Identitas Masyarakat Flores Timur di Masa Depan”. Diakses dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbbali/kekuatan-budaya-lamaholot-dalam-pembentukan-karakter-dan-identitas-masyarakat-flores-timur-di-masa-depan/ tanggal 9 April 2021.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, 2019, “Tembe Nggoli, Salah Satu UMKM Unggulan Bima”. Diakses dari https://www.ntbprov.go.id/post/tembe-nggoli-salah-satu-unggulan-umkm-bima tanggal 19 Juli 2020.

The Nature Conservacy, 2019, “Infografik Sunda Kecil”. Diakses dari https://www.google.com/amp/s/vdokumen.com/amp/infografik-sunda-kecil.html tanggal 20 Juli 2020.

Sumber Lisan/ Informan

Sudirman (55 tahun). 2018. Kepala Dusun Bajo Barat. Wawancara, Bima, 27 Juli 2018.

Diterbitkan

2021-04-29

Cara Mengutip

Haerulloh, A. A., Nurrohmah, S. L., Alim, M., & Ampera, T. (2021). IDENTITAS BUDAYA DAN SEJARAH SUKU BAJO DI BAJO PULAU PASCANOMADEN. Metahumaniora, 11(1), 75–90. https://doi.org/10.24198/metahumaniora.v11i1.32115