TIPE KEBERDERETAN FATIS BAHASA SUNDA DALAM CARITA BUDAK MINGGAT KARYA SAMSOEDI

https://doi.org/10.24198/metahumaniora.v11i1.32301

Penulis

  • Wahya Wahya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran
  • Hera Meganova Lyra
  • R. Yudi Permadi

Kata Kunci:

Fatis, Kelompok fatis, Keberderetan, Pola kalimat, Bahasa Sunda

Abstrak

Setiap bahasa di dunia sebagai sarana ekspresi secara universal memiliki unsur bahasa sebagai penegas bagian tertentu dalam kalimat dan juga unsur pengungkap emosi. Unsur bahasa ini dikenal dengan istilah fatis, yang dapat berbentuk partikel, kata, atau frasa. Dalam kalimat secara linier dapat muncul satu atau beberapa fatis dengan distribusi pada awal, tengah, atau akhir kalimat. Sejalan dengan pernyataan sebelumnya, dalam bahasa Sunda, fatis ini ada dua kelompok, yakni kelompok fatis yang berfungsi sebagai penegas dan kelompok fatis sebagai pengungkap emosi dalam kalimat. Fatis pada setiap kelompok ini dapat hadir tersendiri, dapat pula hadir bersamaan secara berderet. Penelitian ini membahas bagaimana keberderetan fatis berdasarkan kelompok tersebut yang terletak pada awal kalimat dan bagaimana pola kalimat yang mengikuti fatis berderet tersebut dalam bahasa Sunda. Penyediaan data penelitian ini menggunakan metode simak dengan teknik catat. Penganalisisan data menggunakan metode agih dengan pendekatan sintaksis. Sumber data berupa cerita rekaan yang berjudul Carita Budak Minggat karya Samsoedi (2018). Dari hasil penelitian diperoleh 21 data kalimat yang memuat fatis berderet pada awal kalimat. Dari 21 data, ditemukan empat tipe keberderetan fatis berikut: tipe 1, yaitu fatis emosi + fatis penegas (14 data), tipe 2, yaitu fatis penegas+fatis emosi (1 data), tipe 3, yaitu fatis penegas + fatis penegas (5 data), dan tipe 4, yaitu fatis penegas + fatis penegas + fatis penegas (1 data).

Biografi Penulis

Wahya Wahya, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran

Departemen Linguistik. Pangkat IV/c

Referensi

Hadi, Imron. “Fatis Bahasa Melayu Dialek Musi Dalam Tuturan Sehari-hari Masyarakat Petaling” dalam Sawerigading Vol. 23 No. 1. Juni 2017 hlm. 105—116.

Haula, Baiq. “Kategori Fatis dalam Bahasa Sasak” dalam Kandai Vol. 15 No. 2, November 2019 hlm. 201-218.

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kusuma, dkk. “Bentuk dan Fungsi Fatis dalam Komunikasi Lisan Bahasa Melayu Rambah”dalam Akrab Juara Vol. 5 No. 3. Agustus 2020 hlm. 225-232.

Ramlan, M. 1987a. Ilmu Bahasa Indonesia Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: Karyono.

Ramlan, M. 1987b. Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis.Yogyakarta: Karyono.

Efendi, dkk. 2015 Tata Bahasa Dasar Bahasa Indonesia. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sudaryanto. 1994. Predikat-Objek dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Djambatan.

Susanti, Ratna dan Dewi Agustini. “Ungkapan Fatis Pembuka dan Penutup Percakapan Masyarakat Jawa di Surakarta” dalam Leksema Vol. 2 No.1. Januari-Juni 2017 hlm. 37—49.

Wahya, dkk. “Fatis Lailaha Ilallah, Astagfirullahalazhim, dan Insyaallah dalam Cerita Rekaan Berbahasa Sunda” dalam Metalingua Vol. 16 No. 2. Desember 2018 hlm. 295–305.

Wahya. “Dimensi Sintaksis dan Semantik Partikel Euy dalam Novel Budak Teuneung Karya Samseodi” dalam Metahumaniora Vol. 9 Nomor 1. April 2019 hlm. 1—17.

Wahya, dkk. “Partikel His ‘His’ sebagai Pengungkap Emosi dalam Cerita Rekaan Berbahasa Sunda” dalam Metahumaniora Vol. 9 No. 2. September 2019 hlm. 291 – 298.

Wahya, dkk. 2019a. Fatis Bahas Sunda dalam Cerita Rekaan Berbahasa Sunda sebagai Pengungkap Emosi. Jatinangor: Unpad Press.

Wahya, dkk. 2019b. Fatis Bahasa Sunda dalam Perspektif Sintaksis. Jatinangor: Unpad Press.

Diterbitkan

2021-04-29

Cara Mengutip

Wahya, W., Lyra, H. M., & Permadi, R. Y. (2021). TIPE KEBERDERETAN FATIS BAHASA SUNDA DALAM CARITA BUDAK MINGGAT KARYA SAMSOEDI. Metahumaniora, 11(1), 106–118. https://doi.org/10.24198/metahumaniora.v11i1.32301