"Bertumbuh dan Mengakar": Sejarah Pembudidayaan Ketela Pohon di Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.24198/metahumaniora.v11i2.35449Kata Kunci:
ketela pohon, perkembangan, budidaya, tanaman panganAbstrak
Sebagai salah satu komoditas pangan nasional, ketela pohon (Manihot esculenta) banyak dimanfaatkan sebagai kebutuhan konsumsi massa. Budidaya tanaman ini tumbuh dan mengakar di berbagai daerah di Indonesia. Permintaan yang tinggi sebagai bahan olahan populer di sektor domestik dan industri turut meningkatkan produksi ketela pohon. Tanaman yang berasal dari Benua Amerika ini mulai dibudidayakan di kepulauan Nusantara sejak abad ke-16. Dari abad ke abad pertumbuhan ketela pohon telah mengakar menjadi komoditas khas pertanian Indonesia. Artikel ini mengulas perkembangan budidaya ketela pohon dari masa pra-kolonial hingga kontemporer. Dengan menggunakan konsep “pusat asal” (center of origin) dan “pusat keanekaragaman” (center of diversity) tanaman budidaya dari N.I. Vavilov, melalui artikel ini dikaji bagaimana diseminasi tanaman pangan dari kawasan Amerika Selatan dapat berkembang secara ekstensif sebagai komoditas pertanian dan konsumsi massa di Indonesia. “GROWING AND ROOTING”HISTORY OF CASSAVA CULTIVATION IN INDONESIA AbstractAs one of the national food commodities, cassava (Manihot esculenta) is widely used for mass consumption needs. The cultivation of this plant grows and takes root in various regions in Indonesia. The high demand as a popular food ingredient in the domestic and industrial sectors has also increased the production of cassava. This plant originating from the Americas began to be cultivated in the archipelago since the 16th century. From century to century the growth of cassava has taken root into a typical Indonesian agricultural commodity. This article reviews the development of cassava cultivation from pre-colonial to contemporary times. By using the concept of “center of origin” and “center of diversity” of food crops from N.I. Vavilov, through this article discusses how the dissemination of food crops from the South America can develop extensively as an agricultural commodity and mass consumption in Indonesia.Referensi
DAFTAR PUSTAKA
Jurnal
Boomgaard, Peter. 2003. “In the Shadow of Rice: Roots and Tubers in Indonesian History, 1500–1950”, dalam Agricultural History vol. 77 Nomor. 4, hlm. 582–610.
van der Eng, Pierre. 1998. “Cassava in Indonesia: A Historical Reappraisal of an Enigmatic Food Crop”, dalam Southeast Asian Studies Vol 36 Nomor 1, hlm. 3–31.
Zakharov, Ilya A. 2005. “Nikolai I Vavilov (1887–1943)”, dalam Journal of Biosciences Vol. 30 Nomor 3, hlm. 299 – 301.
Buku
Abdurrachman, Paramitha R. 2008. ”Some Portuguese Loanwords in the Vocabulary of Speakers of Ambonsche – Malay in Christian Villages of Central Moluccas”, dalam Paramitha R. Abdurrachman. Bunga Angin Portugis di Indonesia. Jakarta: Obor & LIPI, hlm. 162 – 182.
Adipati Amangkunagara III (Sunan Paku Buwana V). 2008. Serat Centhini (Jilid XII) (disadur ke dalam Bahasa Indonesia oleh Marsono et.al.) Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Anonim. 1951. Masakan djeung Amis-Amis (cetakan ke-4). Jakarta: Balai Pustaka.
Balai Poestaka. 1941a. Makanan jang Moerah tetapi Baik. Batavia: Balai Poestaka.
______. 1941b. Masak-Masakan Moerah. Batavia: Balai Poestaka.
Blokzeijl, K. R.F. 1916. De Cassave. Haarlem: H. D. Tjeenk Willink & Zoon.
Van der Burg, C.L. 1904. De Voeding in Nederlandsch-Indië. Amsterdam: J.H. de Bussy.
Burkill, I.H. 1935. A Dictionary of the Economic Products of the Malay Peninsula,
vol. II (I- Z). London.
Donath, W.F. 1931. Opmerkingen over de Inheemsche voeding. Buitenzorg: Archipel.
FAO. 2013. Cassava: a Guide to Sustainable Production in Intensification. Rome: FAO.
Gelpke, J.H.F. Sollewijn. 1885. Gegevens voor een nieuwe landrente-regeling; Eindresume
der onderzoekingen bevolen bij het Gouvernementsbesluit van 23 Oct. 1879, No. 3 Batavia: Landsdrukkerij.
Koens, A.J. 1946. "Knolgewassen", dalam De Landbouw in den Indischen Archipel. The Hague.
Koesmadi, R. 1958. Ketela Pohon: Usaha mempertinggi ketela pohon dengan Model Mukibat. Surabaya: Inspeksi Dinas Pertanian Rakjat Propinsi Djawa-Timur.
Marsden, William. 1986 (1811). The History of Sumatra. Singapore: Oxford University Press.
Nabhan, Gary Paul. 2009. Where Our Food Comes From: Retracing Nikolay Vavilov’s Quest to End Famine. London: Island Press.
Ochse, J.J dan R.C. Bakhuizen van den Brink. 1931. Vegetables of the Dutch East Indies (Edible Tubers, Bulbs, Rhizomes, and Spices Included); Survey of the Indigenous and Foreign Plants Serving as Pot-Herbs and Side-Dishes. Buitenzorg: Archipel.
R. Aj. Dibjopranoto dan R. Wiknjohadidjojo. Tanpa tahun. Kookboek uit het Districtsgewest Bedji (cetakan pertama). Yogyakarta: Buning.
Raffles, Thomas Stamford. 1817. The History of Java (vol. I). London: John Murray.
Roosevelt, Anna Curtenius. 1980. Parmana: Prehistoric Maize and Manioc Subsistence along the Amazon and Orinoco. New York: Academic Press.
Rumphius, G.E. 1750. Herbarium Amboinense. (Jilid 4 dan 6). Amsterdam: Amsterdam: Changuion, Catuffe, Uytwerf.
Sastrapradja, Setijati D. 2012. Perjalanan Panjang Tanaman Indonesia. Jakarta: Obor.
Soedarmo, Poorwo. 1957. Hidangan Sehat: Menjempurnakan Kesehatan dengan Susunan Hidangan jang Benar. Jakarta: Djambatan.
Sukarno. 1964. Pantjawarna Manipol. Jakarta: Panitia Pembina Djiwa Revolusi.
Walujo, Eko B. 1998. “Keanekaragaman Hayati Indonesia dan Peluangnya dalam Penelitian Etnobotani”, dalam Christian Pelras (ed.), Dialog Prancis – Nusantara: Aneka Ragam Pendekatan dalam Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya tentang Asia Tenggara Maritim. Jakarta: CNRS-Lasema & Obor.
Majalah
Economisch Weekblad voor Nederlandsch Indië. 1946. ”De Rijstpositie van Nederlandsch Indië”. Economisch Weekblad voor Nederlandsch Indië, vol. 12, No. 11, Jakarta: Departement van Economische Zaken.
Gatra, “Atasi Krisis Pangan dengan si Beras Cerdas”, 14 September 2011, hlm. 60 – 61.
De Huisvrouw in Indonesië. 1951. “Instituut voor Volksvoeding, Djakarta” dalam De Huisvrouw in Indonesië, Mei, hlm, 1- 2 dan 7.
Madjalah Berkala Pertanian, Tahun ke-9 – 1958, no. 11 – 12.
Foto:
KITLV, “Soendaneesche Tapioca-fabriek. Preanger" https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/856297 (diakses 24 September 2020)
KITLV, “Cassaveknollen, Java” https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/767073 (diakses 24 September 2020)
KITLV, “Jonge cassave-aanplant”, https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/806500 (diakses 24 September 2020)
Natural History Museum, “Map of the spread of cassava over time", https://www.nhm.ac.uk/resources/nature-online/life/plants-fungi/seeds-of-trade/images/maps/cassava.gif (diakses 25 September 2020)
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Pemberitahuan Hak Cipta
- Hak publikasi atas semua materi informasi yang tercantum dalam situs jurnal ini dipegang oleh dewan redaksi/editor dengan sepengetahuan penulis. Pengelola Jurnal akan menjunjung tinggi hak moral penulis.
- Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional. yang berarti bahwa hanya dengan izin penulis, informasi dan artikel Jurnal Metahumaniora dapat didistribusikan ke pihak lain dengan tanpa merubah bentuk aslinya untuk tujuan non-komersial.
- Setiap terbitan Jurnal Metahumaniora, baik cetak maupun elektronik, bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, penerbit atau pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pembaca atau pengakses.
Pernyataan Privasi
Semua informasi yang diberikan kepada Jurnal Metahumaniora akan digunakan sebatas kepentingan jurnal sebagaimana dicantumkan dalam laman Jurnal Metahumaniora dan tidak akan diberikan kepada pihak lain untuk kepentingan apapun.
Penulis dan editor akan saling menjaga privasi satu sama lain guna menghindari segala bentuk pelanggaran hak cipta, seperti duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarisme.
Naskah artikel ini adalah asli karya penulis yang belum pernah dipublikasikan di jurnal (media) manapun. Dalam naskah artikel penulis harus mengutip (sitasi) tulisan yang dimuat dalam jurnal Metahumaniora. Jika terdapat duplikasi penerbitan, naskah akan dicabut/dihapus oleh dewan redaksi










