TINDAK TUTUR REPRESENTATIF PENDERITA IMPOSTOR SYNDROME DALAM NOVEL A UNTUK AMANDA
Kata Kunci:
tindak tutur ilokusi, impostor syndrome, pragmatikAbstrak
Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental dapat membantu penderita gangguan mental maupun kondisi psikologis dalam mencari pertolongan dari profesional. Penelitian mengenai tindak tutur ilokusi penderita impostor syndrome dapat membantu agar penderita impostor syndrome dan masyarakat saling menerima dan memahami sehingga komunikasi berjalan dengan lancar. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis tindak tutur ilokusi dan bentuk tindak tutur yang dilakukan oleh tokoh Amanda sebagai penderita impostor syndrome dalam novel A untuk Amanda karya Annisa Ihsani. Penelitian ini menggunakan metode simak untuk mengumpulkan data dan metode padan dengan alat penentu wicara sebagai metode analisis data. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 32 tindak tutur representatif. Tindak tutur secara langsung digunakan sebanyak 20 tindak tutur, sedangkan tindak tutur ilokusi dengan bentuk tidak langsung digunakan sebanyak 12 tindak tutur. Berdasarkan hasil analisis, tindak tutur yang menunjukkan pola khas ditemukan sebanyak 15 data, yaitu 6 tindak tutur yang memuat kepercayaan diri yang rendah, 6 sikap pesimistis, dan 3 sensitivitas terhadap hal terkait akademis.Referensi
Ati, E.S., Kurniawati, Y. & Nurwanti, R. (2015). Peran Impostor Syndrome dalam Menjelaskan Kecemasan Akademis pada Mahasiswa Baru. Jurnal Mediapsi, 1,(1), 1–9. https://doi.org/10.21776/UB.MPS.2015.001.01.1
Austin, J.L. (1962). How to do Things with Words. Clarendon Press. https://doi.org/10.14361/9783839429693-021
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. (2019). Hasil Utama Riskesdas 2018. https://www.litbang.kemkes.go.id/hasil-utama-riskesdas-2018/
Bravata, D.M., Watts, S.A., Keefer, A.L., Madhusudhan, D.K., Taylor, K.T., Clark, D. M., Nelson, R.S., Cokley, K.O. & Hagg, H.K. (2020). Prevalence, Predictors, and Treatment of Impostor Syndrome: a Systematic Review. Journal of General Internal Medicine, 35,(4), 1252–1275. https://doi.org/10.1007/s11606-019-05364-1
Dwiyani, B.F. & Widuri, E.L. (2020). Psikoedukasi untuk Meningkatkan Literasi Kesehatan Mental pada Guru dan Siswa di SMPN “A” Yogyakarta. Seminar Nasional Magister Psikologi Universitas Ahmad Dahlan, 1–7. http://seminar.uad.ac.id/index.php/snmpuad/article/view/5698
Grace, S.B., Tandra, A.G.K. & Mary, M. (2020). Komunikasi Efektif dalam Meningkatkan Literasi Kesehatan Mental. Jurnal Komunikasi, 12,(2), 191–210. https://doi.org/10.24912/jk.v12i2.5948
Hawley, K. (2019). I—What Is Impostor Syndrome? Aristotelian Society Supplementary Volume, 93,(1), 203–226. https://doi.org/10.1093/arisup/akz003
Ihsan, M. (2016). Pengaruh Terpaan Media Internet dan Pola Pergaulan terhadap Karakter Peserta Didik. Jurnal Tsamrah Al-Fikri, 10, 103–120. https://riset-iaid.net/index.php/TF/article/view/8
Ihsani, A. (2016). A untuk Amanda. Gramedia Pustaka Utama.
Joshi, A. & Mangette, H. (2018). Unmasking of Impostor Syndrome. Journal of Research, Assessment, and Practice in Higher Education, 3,(1). https://ecommons.udayton.edu/jraphe/vol3/iss1/3
Lubis, N., Krisnani, H., & Fedryansyah, M. (2015). Pemahaman Masyarakat mengenai Gangguan Jiwa dan Keterbelakangan Mental. Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 2,(3), 388–394. https://doi.org/10.24198/jppm.v2i3.13588
Murti, A.R. & Nurhuda, Z. (2019). Tindak Tutur Direktif dalam Novel Susah Sinyal Karya Ika Natassa & Ernest Prakasa (Kajian Pragmatik). Jurnal Sasindo Unpam, 7(1), 71-93. http://dx.doi.org/10.32493/sasindo.v7i1.70-93
Novianty, A. & Hadjam, M.N.R. (2017). Literasi Kesehatan Mental dan Sikap Komunitas sebagai Prediktor Pencarian Pertolongan Formal. Jurnal Psikologi, 44,(1), 50–65. https://doi.org/10.22146/jpsi.22988
Purnama, A., Safitri, A., Kasih, Y., Daerni, Y., Tauran, Y., Alfred, R., Tiara, M., Mita, M.J. & Rosa. (2020). Penyuluhan Kesehatan Mental Melalui Unit Kesehatan Sekolah. Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Maju, 1,(3), 85–89. http://journals.stikim.ac.id/index.php/JLS1/article/view/927
Searle, J.R. (1976). A Classification of Illocutionary Acts. Languange in Society, 5(1), 1–23.
Teeuw, A. (2013). Sastra dan Ilmu Sastra. Pustaka Jaya.
Wijana, I.D.P. (2021). Dasar-Dasar Pragmatik. TS Publisher.
Wiranti, W. (2015). Tindak Tutur dalam Wacana Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata (Sebuah Tinjauan Pragmatik). Jurnal Pendidikan Bahasa, 4,(2), 294-304. https://doi.org/10.31571/bahasa.v4i2.97
Yuliarti, R. & Nuryatin, A. (2015). Tindak Tutur Direktif dalam Wacana Novel Trologi Karya Agustinus Wibowo. Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 4,(2), 78-85. https://doi.org/10.15294/seloka.v4i2.9864
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Pemberitahuan Hak Cipta
- Hak publikasi atas semua materi informasi yang tercantum dalam situs jurnal ini dipegang oleh dewan redaksi/editor dengan sepengetahuan penulis. Pengelola Jurnal akan menjunjung tinggi hak moral penulis.
- Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional. yang berarti bahwa hanya dengan izin penulis, informasi dan artikel Jurnal Metahumaniora dapat didistribusikan ke pihak lain dengan tanpa merubah bentuk aslinya untuk tujuan non-komersial.
- Setiap terbitan Jurnal Metahumaniora, baik cetak maupun elektronik, bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, penerbit atau pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pembaca atau pengakses.
Pernyataan Privasi
Semua informasi yang diberikan kepada Jurnal Metahumaniora akan digunakan sebatas kepentingan jurnal sebagaimana dicantumkan dalam laman Jurnal Metahumaniora dan tidak akan diberikan kepada pihak lain untuk kepentingan apapun.
Penulis dan editor akan saling menjaga privasi satu sama lain guna menghindari segala bentuk pelanggaran hak cipta, seperti duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarisme.
Naskah artikel ini adalah asli karya penulis yang belum pernah dipublikasikan di jurnal (media) manapun. Dalam naskah artikel penulis harus mengutip (sitasi) tulisan yang dimuat dalam jurnal Metahumaniora. Jika terdapat duplikasi penerbitan, naskah akan dicabut/dihapus oleh dewan redaksi










