PROSES MORFOFONOLOGIS VERBA IMPERATIF PADA TUTURAN LISAN ANIME ORANGE
DOI:
https://doi.org/10.24198/metahumaniora.v12i3.41459Kata Kunci:
verba imperatif, morfofonologi bahasa Jepang, ragam lisanAbstrak
Ketika bertutur kata, tuturan yang dihasilkan dapat berbeda dengan aturan kebahasaan, baik secara struktur bahasa atau pun pembentukan kata. Akibatnya adalah terbentuknya variasi kata baru. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi proses morfofonologis verba bahasa Jepang, spesifiknya verba imperatif. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan menggunakan teknik catat pada tahapan pengumpulan data. Sumber data penelitian ini adalah anime Orange. Adapun temuan dari penelitian ini adalah ditemukannya dua proses morfofonologis pada verba kategori perintah dan larangan. Proses morfofonologis pada kategori perintah adalah penghilangan bunyi vokal [i] dan sebagian dari sufiks nasai. Namun, proses morfofonologis yang terjadi pada kategori larangan adalah nasalisasi. Implikasi lain yang ditemukan adalah adanya fenomena pengurangan bunyi pada kategori perintah dan pengaruh lingkungan fonologis pada kategori larangan dan terjadi pengurangan mora pada verba.Referensi
Hasegawa, Y. (2014). Japanese: A Linguistic Introduction. Cambridge University Press.
Hinds, J. (2005). Japanese: Descriptive Grammar. Routledge.
Irwin, M., & Zisk, M. (2019). Japanese Linguistics. Asakura Publishing.
Katou, S. (2008). Shiriizu Nihongo no Shikumi o Saguru 4: Nihongogaku no Shikumi (4th Ed). Kenkyusha.
Kridalaksana, H. (2008). Kamus Linguistik (2nd Ed). PT Gramedia Pustaka Utama.
Matsuura, K. (1994). Kamus Bahasa Jepang-Indonesia. Kyoto Sangyo University Press.
Narande, J., & Lensun, S. (2021). PERUBAHAN FONEM PADA KOSA KATA BAHASA JEPANG BENTUK GOUSEIGO. KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa & Seni, 1(10), 863–872.
Nitta, Y. (2009). Gendai Nihongo Bunpoo 2 (1st Ed). Kuroshio.
Nitta, Y. (2010). Gendai Nihongo Bunpoo 1 (1st Ed). Kuroshio.
Nusantara, H. H., Rachmat, N., & Ardiati, R. L. (2021). Proses Pelepasan Mora Pada Bahasa Jepang Dalam Novel Narcissu Karya Tomo Kataoka. Kiryoku: Jurnal Studi Kejepangan, 5(1), 1–7. https://doi.org/10.14710/kiryoku.v5i1.1-7
Shibatani, M. (1990). The Languages of Japan. Cambridge University Press.
Sudjianto, & Dahidi, A. (2019). Pengantar Linguistik Jepang (3rd ed.). Kesaint Blanc.
Tarigan, H. G. (2009). Pengajaran Morfologi. Penerbit Angkasa.
Tsujimura, N. (2014). An introduction to Japanese Linguistics (3rd Ed). Wiley-Blackwell.
Yuzawa, T., & Matsusaki, H. (2005). Onsei Onintan Hoohoo: Nihongo e no Izanai. Asakusa Shoten.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Pemberitahuan Hak Cipta
- Hak publikasi atas semua materi informasi yang tercantum dalam situs jurnal ini dipegang oleh dewan redaksi/editor dengan sepengetahuan penulis. Pengelola Jurnal akan menjunjung tinggi hak moral penulis.
- Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional. yang berarti bahwa hanya dengan izin penulis, informasi dan artikel Jurnal Metahumaniora dapat didistribusikan ke pihak lain dengan tanpa merubah bentuk aslinya untuk tujuan non-komersial.
- Setiap terbitan Jurnal Metahumaniora, baik cetak maupun elektronik, bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, penerbit atau pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pembaca atau pengakses.
Pernyataan Privasi
Semua informasi yang diberikan kepada Jurnal Metahumaniora akan digunakan sebatas kepentingan jurnal sebagaimana dicantumkan dalam laman Jurnal Metahumaniora dan tidak akan diberikan kepada pihak lain untuk kepentingan apapun.
Penulis dan editor akan saling menjaga privasi satu sama lain guna menghindari segala bentuk pelanggaran hak cipta, seperti duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarisme.
Naskah artikel ini adalah asli karya penulis yang belum pernah dipublikasikan di jurnal (media) manapun. Dalam naskah artikel penulis harus mengutip (sitasi) tulisan yang dimuat dalam jurnal Metahumaniora. Jika terdapat duplikasi penerbitan, naskah akan dicabut/dihapus oleh dewan redaksi










