THE NJAWANI BULE: WACANA POSKOLONIAL PADA KANAL YOUTUBE LONDOKAMPUNG
Kata Kunci:
Mimikri, Ruang Antara, Londokampung, Hibriditas, AmbivalensiAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi konstruksi sosial identitas YouTuber Londokampung dari perspektif poskolonialisme Homi Bhabha. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode analisis isi dan teori poskolonialisme. Hasilnya, identitas YouTuber Londokampung dibangun melalui platform YouTube menggunakan elemen audio-visual. Cak Dave secara aktif memposisikan diri sebagai “bule” dari Australia dan sebagai seorang “Jawa” dari Surabaya, Indonesia. Konstruksi identitas ini terlihat melalui penggunaan atribut seperti pakaian batik, surjan, blangkon dan tindakan yang menyerupai masyarakat “Jawa”. Selain itu, Cak Dave juga menggunakan bahasa Inggris, Indonesia dan Jawa yang menjadikannya sebagai subjek poskolonial yang hibrid, namun Cak Dave tetap mempertahankan perbedaan identitas “bule” yang melekat pada dirinya. Maka terbentuk konstruksi identitas hybrid sebagai “bule jawa”. Dengan demikian, identitas Cak Dave mencerminkan dinamika poskolonial yang kompleks. Lebih lanjut, ia menantang stereotip tentang hubungan Timur-Barat dengan menciptakan identitas hibrida yang memperlihatkan mimicry dan hybridity. Lewat the third space yang dibangun melalui kanal YouTube, ia menunjukkan bahwa budaya lokal memiliki daya tarik yang universal dan mampu bersanding dengan budaya global. Ruang ini juga memungkinkan dekonstruksi stereotip tentang dikotomi “Barat” dan “Timur”.Referensi
Alhaq, S. 2009. Sufi Tradition and the Postcolonial Condition: A Report on Knowledge. Pakistan Journal of Social Sciences (PJSS), 29(2).
Andreas, R., Sanjaya, C. R., Wihastiningrum, Z. D., & Putra, R. I. (2023). Mimicry, Hybridity and Liminality in The Movie Avatar: The Way of Water (A Postcolonial Study). Proceeding ISETH (International Summit on Science, Technology, and Humanity), 1956-1964.
Barker, C. 2016. Cultural studies: Theory and practice. Cultural Studies, 1-760.
Bhabha, H. K. 2012. The location of culture. Routledge.
Bhandari, N. (2020). Negotiating cultural identities in diaspora: A conceptual review of third space. Curriculum Development Journal, (42), 78-89.
Chandra, T. M. (2024). SONG OF SURVIVAL: MELODIES OF IDENTITY, DISPLACEMENT, RESISTANCE, AND HOPE IN “WAVIN FLAG” BY K'NAAN. Prologue: Journal on Language and Literature, 10(1), 76-86.
Faruk. 2008. Belenggu Pascakolonial. Hegemoni Dan Resistensi dalam Sastra Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Firdaus, F. A. E., & Jannah, C. N. N. L. 2021. Gaya Komunikasi Cak Dave dalam Membentuk Karakteristik Suroboyoan. Citizen: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, 1(3), 154- 158.
Gandhi, L. 2019. Postcolonial theory. In Postcolonial Theory. Columbia University Press.
Kalua, F. (2009). Homi Bhabha's third space and African identity. Journal of African cultural studies, 21(1), 23-32.
Krippendorff, K. (2018). Content analysis: An introduction to its methodology. Sage publications.
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994). Qualitative data analysis: An expanded sourcebook. sage.
Oh, D. C., & Oh, C. (2017). Vlogging white privilege abroad: Eat your kimchi’s eating and spitting out of the Korean other on YouTube. Communication, Culture & Critique, 10(4), 696-711.
Setiya, D., Hapsari, S. A., & Kumalasari, A. 2019. Javanese As Local Language Identity And Preservation In The Digital Era. Jurnal Ilmu Komunikasi, 2(2), 73-84.6
Spivak, G. C. 2015. “Can the Subaltern Speak?”. In Colonial discourse and post-colonial theory (pp. 66-111). Routledge.
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: PT. Alfabet.
Tang, M. R., Ridwan, R., & Junaedi, I. M. (2024). Voicing The Reality of Colonized Women in The Novel ‘Belenggu’ By Armijn Pane. Tamaddun, 23(1), 43-50.
Wirawan, S., & Shaunaa, R. 2021. Analisis Penggunaan Campur Kode dan Alih Kode dalam Video Akun Youtube Londokampung. Jurnal Budaya Brawijaya, 1(1), 17-22.
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Pemberitahuan Hak Cipta
- Hak publikasi atas semua materi informasi yang tercantum dalam situs jurnal ini dipegang oleh dewan redaksi/editor dengan sepengetahuan penulis. Pengelola Jurnal akan menjunjung tinggi hak moral penulis.
- Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional. yang berarti bahwa hanya dengan izin penulis, informasi dan artikel Jurnal Metahumaniora dapat didistribusikan ke pihak lain dengan tanpa merubah bentuk aslinya untuk tujuan non-komersial.
- Setiap terbitan Jurnal Metahumaniora, baik cetak maupun elektronik, bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, penerbit atau pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pembaca atau pengakses.
Pernyataan Privasi
Semua informasi yang diberikan kepada Jurnal Metahumaniora akan digunakan sebatas kepentingan jurnal sebagaimana dicantumkan dalam laman Jurnal Metahumaniora dan tidak akan diberikan kepada pihak lain untuk kepentingan apapun.
Penulis dan editor akan saling menjaga privasi satu sama lain guna menghindari segala bentuk pelanggaran hak cipta, seperti duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarisme.
Naskah artikel ini adalah asli karya penulis yang belum pernah dipublikasikan di jurnal (media) manapun. Dalam naskah artikel penulis harus mengutip (sitasi) tulisan yang dimuat dalam jurnal Metahumaniora. Jika terdapat duplikasi penerbitan, naskah akan dicabut/dihapus oleh dewan redaksi










