PERAN MAKANAN KOREA DALAM MENEGOSIASIKAN IDENTITAS BUDAYA DI MEMOAR CRYING IN H MART KARYA MICHELLE ZAUNER
DOI:
https://doi.org/10.24198/metahumaniora.v15i3.63866Kata Kunci:
cultural identity; diasporic life; korean cuisine; cultural analysis; discriminationAbstrak
Penelitian ini menceritakan perjalanan identitas Zauner, seorang subjek diaspora Korea-Amerika generasi kedua yang tinggal di Amerika Serikat. Ia ingin menegosiasikan identitas Koreanya dalam masyarakat dominan menggunakan masakan Korea sebagai pintu gerbang utama. Data untuk penelitian ini diambil dari memoar berjudul Crying in H Mart karya Michelle Zauner, yang dianalisis menggunakan metode penelitian kualitatif. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan Teori Identitas Budaya Stuart Hall, khususnya konsep-konsep being, becoming, dan “positioning, untuk menjelaskan bagaimana perjalanan identitas Zauner berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap konstruksi identitas budaya diaspora melalui negosiasi budaya, dengan menggunakan masakan Korea sebagai alat utama untuk mengeksplorasi warisan budaya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa identitas Zauner tidak statis tetapi sangat dinamis, mencerminkan perjalanan hidupnya yang kompleks. Sebelum memutuskan untuk menegosiasikan identitas Korea-nya, Zauner mengalami banyak hal di Amerika, termasuk diskriminasi yang pernah membuatnya malu dengan warisan Korea-nya. Seiring pertumbuhannya, ia menyadari bahwa masakan Korea bukan sekadar sarana bertahan hidup, tetapi alat untuk menavigasi budaya Korea dalam masyarakat Amerika. Dengan demikian, menjadi jelas bagaimana penulisan dalam memoar ini membangun kerangka yang mengungkapkan tujuan penulis dalam menulis memoar atau posisi penulis. Ada konstruksi diplomasi soft power dalam memoarnya, dengan penekanan pada deskripsi rinci tentang metode memasak, penyajian, dan masakan Korea.Referensi
Besman, A., Septrina, R., & Rahman, P. H. A. (2018). The Change of Beauty Standard, A Korean Wave Phenomenon Findings from Bandung City. https://doi.org/10.2991/icomacs-18.2018.28
Brulotte, R. L., & Di Giovine, M. A. (2014). Food and Foodways as Cultural Heritage. In R. L. Brulotte & M. A. Di Giovine (Eds.), Edible Identities: Food as Cultural Heritage (pp. 1–28). Ashgate.
Cho, H. S. (2006). Food and Nationalism: Kimchi and Korean National Identity. The Korean Journal of International Relations, 46 (5)(Food and Nationalism), 207–229. https://doi.org/https://doi.org/10.14731/kjis.2006.12.46.5.207
Choi, R. (2022, January). Roy Choi Teaches Intuitive Cooking. MasterClass. https://www.masterclass.com/classes/roy-choi-teaches-intuitive-cooking
Chung, H. K., Yang, H. J., Shin, D., & Chung, K. R. (2016). Aesthetics of Korean foods: The Symbol of Korean culture. Journal of Ethnic Foods, 3(3), 178–188. https://doi.org/10.1016/j.jef.2016.09.001
Cohen, R. (2023). Global Diasporas: An Introduction (25th Anniversary). Routledge.
Dalessio, W. R. (2012). Are We What We Eat? Food and Identity in Late Twentieth-Century American Ethnic Literature. Cambria Press.
Hall, S. (1990). Cultural Identity and Diaspora. In J. Rutherford (Ed.), Identity: Community, Culture, Difference (pp. 222–237). London: Lawrence & Wishart.
Jeong, C. H. (2021). The Roles Konglish Plays in the Korean American Community. Bryn Mawr College.
Kennedy, M. (2024, November 19). Cook Like a Grandmother with ‘The League of Kitchens Cookbook.’ AP News. https://apnews.com/article/league-kitchens-cookbook-aa39d1d4e220f832ddccd6b9311ff5d2
Kim, E. (1987). Assimilation Patterns of Koreans in the United States. Center for Migration Studies Special Issues, 5(2), 144–158. https://doi.org/10.1111/j.2050-411x.1987.tb00499.x
Kim, N. Y. (2018). Race-ing the Korean American Experience. In R. M. Joo & S. S.-H. Lee (Eds.), A Companion to Korean American Studies (1,) 267–303. Brill. https://doi.org/10.1163/9789004335332_001
Lacan, J. (2007). Ecrits (B. Fink, Trans.). W. W. Norton.
Louie, S. (2016, September 2). White Sexual Imperialism. Psychologi Today. https://www.psychologytoday.com/ca/blog/minority-report/201609/white-sexual-imperialism
Nye, J. S. (2019). Soft Power and Public Diplomacy Revisited. The Hague Journal of Diplomacy, 14(1–2), 7–20. https://doi.org/10.1163/1871191X-14101013
Park, S. (2009). Negotiating Identities and Re-acculturation of Second-Generation Korean Americans. Korea Research Foundation Grant, Second Generation Korean American Diaspora, 1–37.
Portes, A., & Rumbaut, R. G. (2001). Legacies: The Story of the Immigrant Second Generation. University of California Press.
Team Coco. (2023, March 14). Michelle Zauner & Conan Discuss “Crying In H Mart” | Conan O’Brien Needs a Friend [Broadcast]. YouTube. https://www.youtube.com/h?v=FXTSha2Tumo&list=WL&index=15&t=535s
Zauner, M. (2021). Crying in H Mart (N. Kim, Ed.; Issue Diaspora). Alfred A. Knopf.
Unduhan
Diterbitkan
Versi
- 2025-12-19 (2)
- 2025-12-05 (1)
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 M. Ganjar Tri Wijayanto

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Pemberitahuan Hak Cipta
- Hak publikasi atas semua materi informasi yang tercantum dalam situs jurnal ini dipegang oleh dewan redaksi/editor dengan sepengetahuan penulis. Pengelola Jurnal akan menjunjung tinggi hak moral penulis.
- Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional. yang berarti bahwa hanya dengan izin penulis, informasi dan artikel Jurnal Metahumaniora dapat didistribusikan ke pihak lain dengan tanpa merubah bentuk aslinya untuk tujuan non-komersial.
- Setiap terbitan Jurnal Metahumaniora, baik cetak maupun elektronik, bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, penerbit atau pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pembaca atau pengakses.
Pernyataan Privasi
Semua informasi yang diberikan kepada Jurnal Metahumaniora akan digunakan sebatas kepentingan jurnal sebagaimana dicantumkan dalam laman Jurnal Metahumaniora dan tidak akan diberikan kepada pihak lain untuk kepentingan apapun.
Penulis dan editor akan saling menjaga privasi satu sama lain guna menghindari segala bentuk pelanggaran hak cipta, seperti duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarisme.
Naskah artikel ini adalah asli karya penulis yang belum pernah dipublikasikan di jurnal (media) manapun. Dalam naskah artikel penulis harus mengutip (sitasi) tulisan yang dimuat dalam jurnal Metahumaniora. Jika terdapat duplikasi penerbitan, naskah akan dicabut/dihapus oleh dewan redaksi










