PARADIGMA TRAUMA CATHY CARUTH DALAM PUISI MEDITASI ABDUL HADI WIDJI MUTHARI
Kata Kunci:
Abdul Hadi W.M, Caty Caruth, Memori, Sastra Trauma, SufistikAbstrak
Kajian terhadap puisi sufistik Indonesia umumnya menekankan dimensi spiritual dan simbolik, tetapi belum banyak yang secara khusus menelaah bagaimana pengalaman religius dalam puisi bekerja sebagai pengalaman traumatik. Celah ini tampak dalam pembacaan terhadap puisi “Meditasi” karya Abdul Hadi W.M., yang lebih sering dipahami sebagai ekspresi pencarian transendental daripada sebagai representasi krisis religius yang dibentuk oleh memori laten dan kesadaran yang datang terlambat. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana latency dan belatedness dalam paradigma trauma Cathy Caruth membentuk krisis religius subjek lirik dalam puisi “Meditasi”. Metode yang digunakan adalah close reading dengan menelusuri diksi, citraan tubuh, repetisi ritual, perpindahan ruang sakral, dan perubahan posisi “aku”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman sakral dalam puisi ini tampil sebagai sesuatu yang sekaligus memikat dan melukai. Hal itu tampak pada citra tubuh yang dingin, kelelahan melintasi ruang-ruang suci, dan pencarian berulang dari pintu ke pintu yang menandai kembalinya pengalaman yang tidak pernah sepenuhnya menyatu menjadi pemahaman utuh. Selain itu, puisi ini memperlihatkan bahwa krisis spiritual juga beririsan dengan dimensi politis ketika Tuhan digambarkan “makin sempit rasa kebangsaannya”, sehingga universalisme ilahi tampil sebagai medan perebutan representasi. Melalui aporia penutup, puisi ini menolak kepastian teologis yang menutup luka. Dengan demikian, penelitian ini mengusulkan konsep spiritualitas traumatik untuk menjelaskan hubungan trauma, sufisme, dan nasionalisme agama dalam puisi modern Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa kerangka Caruth dapat diterapkan secara produktif pada teks lokal tanpa menghapus konteks kulturalnya.Referensi
Abubakar, S. (2017). Art as Narrative : through Literature Recounting Trauma. Institute Of Research Advances, 08(01), 120.
Aulia Azzahra, A. (2022). Analisis Struktural Puisi Sendiri Karya Abdul Hadi W . M. Dewantara : Jurnal Pendidikan Sosial Humaniora, 1(3), 40.
Azmi, M. N. L. (2018). A New Beginning of Trauma Theory in Literature. 57–65. https://doi.org/10.18502/kss.v3i4.1918
Brewin, C. R. (2015). Re-experiencing traumatic events in PTSD: new avenues in research on intrusive memories and flashbacks. 1, 1–5.
Caruth, C. (1991). Unclaimed Experience : of History Trauma and the Possibility. Studies, Yale French, 79, 181–192. http://www.jstor.org/stable/2930251
Fuad, K. (2020). Simbolisme Puisi Sufistik Odhy’s (Kajian Antologi Puisi Rahasia Sang Guru Sufi) Simbolism of Odhy’s Islamic Mysticism Poetry (Study of Poetry Antology Rahasia Sang Guru Sufi). Atavisme, 23(1), 76. https://doi.org/10.24257/atavisme.v23i1.622.75-88
Hermawan, H. S. (2023). ANALISIS PSIKOLOGI SASTRA PUISI BENCANA, PETAKA, DAN KARUNIA KARYA TRI BUDHI SASTRIO. 5(2), 195–207.
Maslida, N. R., & Wajiran, W. (2025). Trauma representation in Kazuo Ishiguro ’ s Never Let Me Go : A narrative study based on Cathy Caruth ’ s Theory. LEKSIKA, 19. https://doi.org/https://dx.doi.org/10.30595/lks.v19i2.26518 ©2025
Mohamed Ali Zoromba; Abeer Selim; Ateya Megahed Ibrahim; Mohamed Gamal Elseh; Elsehrawy; Sameer A. Alkubati; Ali D. Abousoliman, H. E. E.-G. (2024). Heliyon Advancing trauma studies : A narrative literature review embracing a holistic perspective and critiquing traditional models. Heliyon, 10(16), e36257. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e36257
Musdalifa, Samad, A. G., Anies, S. H., & Syarif, S. (2025). Trauma Psikologis dalam Antologi Puisi Aku Ini Binatang Jalang Karya Chairil Anwar: Kajian Psikologi Sastra. AL GAZALI, 8(1).
Muthari, A. H. W. (1982). Meditasi. Balai Pustaka.
Muzi, Li. (2025). Analysis of Paul Harding ’ s Tinkers from the Perspective of Cathy Caruth ’ s Trauma Theory. Research Journal of English Language and Literature (RJELAL), 8992(Ici). https://doi.org/10.33329/rjelal.13.2.152
Pickett, G. L. (2024). “ So Beautiful That Mortal. Eyes Can ’ t Take It ”: How Postmodernism Shows Us the Function of the Beautiful in the Landscape of the Traumatic.
Ruda, F., & Hamza, A. (2022). The Present of Poetry. Crisis and Critique, 9(1), 6.
Sartika, E. (2020). TRAUMATIC EXPERIENCES IN EKA KURNIAWAN ’ S NOVEL SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS. 8(2), 121–138. https://doi.org/10.22146/poetika.55895
Sujarwoko, Kasnadi, S. (2024). Ekspresi Sufistik Bentuk Pantun dan Syair dalam Puisi-Puisi Abdul Hadi W.M. Jurnal LEKSIS, 4(1), 41.
Ula, M. (2016). SIMBOLISME BAHASA SUFI ( Kajian Hermeneutika terhadap Puisi Hamzah Fansuri ). RELIGIA, 19(2), 27.
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Hak Cipta (c) 2026 Mochammad Bagja Agung Nugraha Zainaldy, Nurlaila Jihadah

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Pemberitahuan Hak Cipta
- Hak publikasi atas semua materi informasi yang tercantum dalam situs jurnal ini dipegang oleh dewan redaksi/editor dengan sepengetahuan penulis. Pengelola Jurnal akan menjunjung tinggi hak moral penulis.
- Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional. yang berarti bahwa hanya dengan izin penulis, informasi dan artikel Jurnal Metahumaniora dapat didistribusikan ke pihak lain dengan tanpa merubah bentuk aslinya untuk tujuan non-komersial.
- Setiap terbitan Jurnal Metahumaniora, baik cetak maupun elektronik, bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, penerbit atau pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pembaca atau pengakses.
Pernyataan Privasi
Semua informasi yang diberikan kepada Jurnal Metahumaniora akan digunakan sebatas kepentingan jurnal sebagaimana dicantumkan dalam laman Jurnal Metahumaniora dan tidak akan diberikan kepada pihak lain untuk kepentingan apapun.
Penulis dan editor akan saling menjaga privasi satu sama lain guna menghindari segala bentuk pelanggaran hak cipta, seperti duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarisme.
Naskah artikel ini adalah asli karya penulis yang belum pernah dipublikasikan di jurnal (media) manapun. Dalam naskah artikel penulis harus mengutip (sitasi) tulisan yang dimuat dalam jurnal Metahumaniora. Jika terdapat duplikasi penerbitan, naskah akan dicabut/dihapus oleh dewan redaksi










