CAT KUKU SEBAGAI GAYA HIDUP DAN IDENTITAS SOSIAL PEREMPUAN DI HINDIA BELANDA TAHUN 1920-1942

Penulis

  • Atika Salsabila Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran
  • Tanti Restiasih Skober Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran

DOI:

https://doi.org/10.24198/metahumaniora.v16i1.64002

Kata Kunci:

cat kuku, distingsi sosial, modernitas

Abstrak

Penelitian ini berargumen bahwa cat kuku di Hindia Belanda pada periode 1920–1942 bukan sekadar produk kosmetik, melainkan benda yang berfungsi sebagai simbol gaya hidup sekaligus penanda identitas sosial perempuan dalam tatanan kolonial. Mengacu pada Teori Distingsi Sosial Pierre Bourdieu, praktik estetika tubuh bekerja sebagai instrumen pembentukan batas kelas melalui selera dan konsumsi. Dengan metode sejarah budaya dan analisis sumber primer berupa iklan kecantikan, arsip foto, serta dokumen kolonial, penelitian ini menunjukkan bahwa cat kuku, khususnya merek global seperti Cutex, beroperasi sebagai komoditas mewah yang hanya dapat diakses oleh perempuan kelas atas kolonial. Media cetak kolonial memainkan peran kunci dalam membakukan standar feminitas modern melalui representasi visual tangan yang terawat sebagai antitesis dari kerja fisik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa produk kecantikan menjadi alat kultural yang efektif untuk mempertahankan hierarki kolonial sekaligus mendefinisikan identitas sosial melalui disiplin tubuh perempuan.

Referensi

Ariwibowo, G. A. (2019). Perkembangan Budaya Kosmopolitan di Batavia 1905-1942. Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya, 3(1), 55-74.

Aulia, N., & Afiyanto, A. (2023). Pengaruh Mode Paris terhadap Budaya Indonesia di Era Kolonial. Jurnal Sejarah dan Budaya, 15(2), 55-71.

Bourdieu, P. (1984). Distinction: A Social Critique of the Judgment of Taste. Harvard University Press.

Forde, K. R. (2002). Celluloid Dreams: The Marketing of Cutex in America, 1916-1935. Journal of Design History, 15(3), 175-189.

Gottschalk, L. (1986). Mengerti Sejarah. Penerbit Universitas Indonesia.

Gouda, F. (2007). Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda, 1900-1942. Serambi Ilmu Semesta.

Hellwig, T. (2007). Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda. Yayasan Obor Indonesia.

Krisnawati, E. D., et al. (2022). Sejarah Nail Art: Gaya, Estetika, dan Komersialisasi. Jurnal Estetika dan Mode, 8(1), 33-45.

Locher-Scholten, E. (2000). Women and the Colonial State: Essays on Gender and Modernity in the Netherlands Indies, 1900-1942. Amsterdam University Press.

Lubis, N. H. (2020). Metode Sejarah: Langkah-langkah dan Praktik. Satya Historika.

Saraswati, L. A. (2017). Seeing Beauty, Sensing Race in Transnational Indonesia. University of Hawai’i Press.

Sherrow, V. (2001). For Appearances’ Sake: The Historical Encyclopedia of Good Looks, Beauty, and Grooming. Oryx Press.

Tasnur, I., Apriyanto, J., & Arrazaq, N. R. (2022). Liberalisme dan Monetisasi Ekonomi di Hindia Belanda (1870-1900). Keraton: Journal of History Education and Culture, 4(2), 71-78.

Dwiputri, A., & Wulandari, S. (2023). Commodifying the Female Body: Beauty Products and Colonial Power in Dutch East Indies Newspapers. Journal of Southeast Asian Studies, 54(1), 88–110.

Hartono, B. (2022). Kecantikan, Kelas, dan Kuasa: Konstruksi Femininitas dalam Iklan Kosmetik Kolonial Belanda. Jurnal Sejarah Citra Lekha, 7(2), 120–137.

Ratnasari, D., & Kusumawati, F. (2021). Modernitas dan Tubuh Perempuan dalam Pers Kolonial Hindia Belanda. Lembaran Sejarah, 17(1), 44–63.

Unduhan

Diterbitkan

2026-04-30

Cara Mengutip

Salsabila, A., & Skober, T. R. (2026). CAT KUKU SEBAGAI GAYA HIDUP DAN IDENTITAS SOSIAL PEREMPUAN DI HINDIA BELANDA TAHUN 1920-1942. Metahumaniora, 16(1), 53–60. https://doi.org/10.24198/metahumaniora.v16i1.64002