Deflasi Semantis dalam Pertukaran antara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia
Kata Kunci:
deflasi semanstis, pertukaran antarbahasa, disfemisme efesemantic deflation, interlinguistic exchange, euphemistic dysphemism, postcolonial fetisAbstrak
Penggunaan unsur-unsur bahasa Inggris dalam wacana Indonesia kontemporer semakin menjadi lazim dan meresap dalam berbagai konteks mulai dari percakapan sehari-hari, forum akademik, hingga media massa baik dalam bentuk ujaran lisan maupun teks tertulis. Perjumpaan antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia sama sekali bukan fenomena baru. Tiga periode pertukaran interlinguistik antara kedua bahasa dapat diidentifikasi sebelum periode yang sedang berlangsung kini, mulai dari (1) pertukaran tidak langsung melalui bahasa lain, (2) pertukaran langsung terdokumentasi sejak awal abad ke-19 yang bertepatan dengan kehadiran Imperium Britania di Asia Tenggara yang memfasilitasi dimasukannya sejumlah besar kata-kata Melayu ke dalam kosakata bahasa Inggris, dan (3) periode pasca-Perang Dunia II saat Indonesia menjadi lebih terlibat dalam ekonomi global yang berkontribusi pada penyebaran praktik budaya (Adipurwawidjana, 2013). Namun, walaupun dalam pertukaran semacam itu pergeseran dan modifikasi pada berbagai tingkat linguistik tidak dapat dihindari, arus lintas budaya yang melimpah saat ini tampaknya tidak memberikan kesempatan bagi unsur-unsur bahasa yang dipinjam untuk beradaptasi dengan struktur bahasa Indonesia sebagai bahasa peminjam, yang mengakibatkan penggunaan nahasa Inggris yang sepotong-sepotong dan terfragmentasi dalam penggunaan bahasa Indonesia secara umum. Hal ini merupakan gejala yang disebut Halpern (2001, 2008) sebagai "deflasi semantik," sebuah gejalan yang mengurangi nilai dan bobot semantik karena penggunaan bahasa di tingkat permukaan belaka tidak memberikan ruang yang cukup untuk penyerapannya. Melihat ujaran sehari-hari dan teks-teks yang hadir di ruang publik, tulisan ini akan menunjukkan terjadinya deflasi semantik atas kata dan frasa yang dipinjam bahasa Inggris dalam wacana Indonesia kontemporer, termasuk degradasi elemen eufemistik dan disfemistik, penggunaan yang tidak idiomatis, dan formasi kata non-standar.Referensi
Adipurwawidjana, Ari. 2013. “Masuknya Kata-kata Melayu ke dalam Khazanah Bahasa Inggris. Dalam M. Irfan Hidayatullah (Ed.), Amok dan Ancaman Disintegrasi Bangsa (hlm. 25-39). Bandung: Quacana.
Allan, Keith & Burridge, Kate. 2006. Forbidden Words: Taboo and Censoring of Language. Cambridge: Cambridge University Press
Baudin, Nurliyana & Paramasivam, Samala. 2014. Swearing in English among a Group of Female Malaysian Teenagers. International Journal of Contemporary Applied Sciences Vol. No. 3, hlm. 14-25
Bhabha, Homi K. 1994. The Location of Culture. London: Routledge.
Budiman, Manneke. 2016. “Banality of Expression: How Has Language Changed after the New Order?” Indonesia at Melbourne. The University of Melbourne. Diambil dari http://indonesiaatmelbourne.unimelb.edu.au/banality-of-expression-how-has-language-changed-after-the-new-order/
Casas Gómez, Miguel. 2012. “The Expressive Creativity of Euphemism and Dysphemism.” LEXIS Vol. 7, hlm. 43-64.
Halpern, Mark. 2001. “The End of Linguistics: Taking the Language Back from Nature—and Linguists. The American Scholar Vol. 70 No. 1, hlm. 13-26.
Halpern, Mark. 2008. Language and Human Nature. London: Routledge.
Nida, Eugene. 1978. Componential Analysis of Meaning. The Hague: Mouton Publishers.
Sabaté i Dalmau, Maria. 2012. “’The Official Language of Telefónica is English’: Problematising the Construction of English as Lingua Franca in the Spanish Telecommunications Sector.” Atlantis Vol. 34 No. 1, hlm. 133-151.
Wang, W., L. Chen, K. Thirunarayan, & A. P. Sheth. 2014. “Cursing in English on Twitter.” Proceedings of the 17th ACM Conference on Computer Supported Cooperative Work & Social Computing, hlm. 415-424. http://core-scholar.libraries.wright.edu/knoesis/590
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Pemberitahuan Hak Cipta
- Hak publikasi atas semua materi informasi yang tercantum dalam situs jurnal ini dipegang oleh dewan redaksi/editor dengan sepengetahuan penulis. Pengelola Jurnal akan menjunjung tinggi hak moral penulis.
- Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional. yang berarti bahwa hanya dengan izin penulis, informasi dan artikel Jurnal Metahumaniora dapat didistribusikan ke pihak lain dengan tanpa merubah bentuk aslinya untuk tujuan non-komersial.
- Setiap terbitan Jurnal Metahumaniora, baik cetak maupun elektronik, bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, penerbit atau pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pembaca atau pengakses.
Pernyataan Privasi
Semua informasi yang diberikan kepada Jurnal Metahumaniora akan digunakan sebatas kepentingan jurnal sebagaimana dicantumkan dalam laman Jurnal Metahumaniora dan tidak akan diberikan kepada pihak lain untuk kepentingan apapun.
Penulis dan editor akan saling menjaga privasi satu sama lain guna menghindari segala bentuk pelanggaran hak cipta, seperti duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarisme.
Naskah artikel ini adalah asli karya penulis yang belum pernah dipublikasikan di jurnal (media) manapun. Dalam naskah artikel penulis harus mengutip (sitasi) tulisan yang dimuat dalam jurnal Metahumaniora. Jika terdapat duplikasi penerbitan, naskah akan dicabut/dihapus oleh dewan redaksi










