HUBUNGAN KEKERABATAN BAHASA ACEH DAN BAHASA GAYO: KAJIAN LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF
Kata Kunci:
kekerabatan bahasa, korespondensi fonemis, perubahan bunyiAbstrak
Penelitian ini bertujuan mengkaji hubungan kekerabatan, waktu pisah, pasangan korespondensi fonemis, dan perubahan bunyi dalam bahasa Aceh dan bahasa Gayo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kombinasi (pendekatan kuantitatif dan kualitatif) dengan menerapkan teknik leksikostatistik dan glotokronologi. Secara kuantitatif diperoleh hubungan kekerabatan antara bahasa Aceh dan bahasa Gayo adalah 43% yang dapat dikelompokkan dalam kelompok keluarga. Hasil perhitungan glotokronologi, bahasa Aceh dan bahasa Gayo merupakan bahasa tunggal diperkirakan antara 1.768 – 2.000 tahun yang lalu dan kemudian berpisah dari bahasa protonya antara 254 SM – 22 SM (dihitung dari tahun 2022). Hasil penelitian secara kualitatif menunjukkan adanya korespondensi fonemis antara bahasa Aceh dan bahasa Gayo ditemukan 13 Pasangan yaitu fonem /?/~/a/, /?/~/?/, /?/~/u/, /e/~/i/, /?/~/e/, /o/~/u/, /o/~/?/, /a/~/?/, /a/~/?/, /?/~/u/, /a/~/e/, /a/~/Ø/, /i/~/l/, dan /h/~/ Ø/. Selain itu, juga ditemukan perubahan bunyi pada PAN dalam bahasa Aceh dan bahasa Gayo meliputi perubahan bunyi metatesis, aferesis, sinkope, apokope, protesis, epentesis, paragog, lenisi, dan fortisi.Referensi
Ahyar, J., Ibrahim, Y., Saputrac, J., Muahmmad, Z., & Rahman, B. (2020). Linguistic Study: The Relationship of Words and Meaning in Acehnese Language, Gayo Language and Alas Language.”dalam The 5th International Conference on Management in Emerging Markets (ICMEM 2020). hlm.1076-1079
Blust, R.A. (2009). The Austronesian languages. Pacific Linguistics, Research School of Pacific and Asian Studies, Australian National University.
Crowley, F., & Bowern, C. (2010). An Introduction to Historical Linguistics: Fourth Edition. Oxford University Press.
Eades, D. (2005). A grammar of Gayo: a language of Aceh, Sumatra. Pacific Linguistics, Research School of Pacific and Asian Studies, Australian National University.
Istiqomah. (2017). Kerarabatan Bahasa Aceh dengan Bahasa Melayu (Malaysia) Kajian Linguistik Komparatif. dalam Seminar Nasional II USM Vol 1. hlm. 222–226.
Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis. PT Gramedia Pustaka Utama.
Mahsun. (2012). Metode Penelitian Bahasa. Raja Grafindo.
“Peta Bahasa Provinsi Aceh.” Bbaceh.Kemdikbud.go.id, diakses dari https://bbaceh.kemdikbud.go.id/peta-bahasa/ tanggal 10 November 2021.
Sudarno. (1994). Perbandingan Bahasa Nusantara. Arikha Media Cipta.
Surip, M., & Widayati, D. (2019). Kekerabatan Bahasa Jawa dan Bahasa Gayo : Kajian Linguistik Historis Komparatif. Jurnal Bahasa Lingua Scientia. 11. 1–26.
Tiani, R. (2018). Korespondesi Bunyi Bahasa Aceh dan Bahasa Gayo. NUSA. 13. 223–230.
Wildan. 2010. Kaidah Bahasa Aceh. GEUCI.
Wurm, S.A., Stephen A. & Wilson, B. (1975). English finderlist of reconstructions in Austronesian languages. Dept. of Linguistics, Research School of Pacific Studies, Australian National University.
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Pemberitahuan Hak Cipta
- Hak publikasi atas semua materi informasi yang tercantum dalam situs jurnal ini dipegang oleh dewan redaksi/editor dengan sepengetahuan penulis. Pengelola Jurnal akan menjunjung tinggi hak moral penulis.
- Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional. yang berarti bahwa hanya dengan izin penulis, informasi dan artikel Jurnal Metahumaniora dapat didistribusikan ke pihak lain dengan tanpa merubah bentuk aslinya untuk tujuan non-komersial.
- Setiap terbitan Jurnal Metahumaniora, baik cetak maupun elektronik, bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, penerbit atau pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pembaca atau pengakses.
Pernyataan Privasi
Semua informasi yang diberikan kepada Jurnal Metahumaniora akan digunakan sebatas kepentingan jurnal sebagaimana dicantumkan dalam laman Jurnal Metahumaniora dan tidak akan diberikan kepada pihak lain untuk kepentingan apapun.
Penulis dan editor akan saling menjaga privasi satu sama lain guna menghindari segala bentuk pelanggaran hak cipta, seperti duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarisme.
Naskah artikel ini adalah asli karya penulis yang belum pernah dipublikasikan di jurnal (media) manapun. Dalam naskah artikel penulis harus mengutip (sitasi) tulisan yang dimuat dalam jurnal Metahumaniora. Jika terdapat duplikasi penerbitan, naskah akan dicabut/dihapus oleh dewan redaksi










